Dua Elemen Penting untuk Bersihkan Laut dari Sampah Plastik

IMG-20191223-WA0000

SaLingnews.com – Pelibatan teknologi dan inovasi diyakini bisa menjadi salah satu kunci untuk mempercepatan penanganan sampah laut yang ada di Indonesia saat ini. Penanganan dengan melibatkan dua elemen tersebut, bisa dilakukan dengan mulai menerapkannya dari darat melalui pembersihan sampah plastik yang ada di sungai.

800213_720

Tumpukan sampah diantara kapal nelayan di sepanjang pantai Satelit, kecamatan Muncar, Banyuwangi, pada akhir Juni 2019. Selain di pantai, sampah juga ada di perairan laut Muncar yang mempengaruhi nelayan mendapatkan ikan. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Demikian diungkapkan oleh Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Agung Kuswandono di Jakarta, belum lama ini. Menurut dia, penggunaan inovasi dan teknologi juga akan mendukung program Pemerintah untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025 mendatang.

Iklan Dedy Manihuruk

Bagi Agung, sampah laut sudah menjadi persoalan yang mendesak bagi bangsa Indonesia dan harus segera ditangani secara menyeluruh, berkesinambungan, dan terintegrasi. Hal itu, karena sampah laut sudah memicu dampak negatif pada sektor pariwisata, kerusakan lingkungan dan ekosistem laut, serta kesehatan manusia.

IKLAN Kepala DLH

“Kerja sama Internasional dan intervensi teknologi merupakan aspek penting untuk menangani permasalahan sampah laut ini,” ucapnya.

Agung menjelaskan, pelibatan teknologi dalam program penanganan sampah laut, dinilai akan berdampak positif untuk penanganan secara menyeluruh. Terlebih, karena keterlibatan teknologi tidak adalah untuk menumbuhkan penelitian tentang sampah plastik yang ada di laut.

“Penelitian diperlukan untuk mendapatkan data lapangan yang akurat, penanganan sampah plastik secara komprehensif dari pengambilan sampahnya hingga pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pengolahan sampah untuk daur ulang,” ujarnya.

Mengingat pentingnya teknologi dan inovasi, Agung meminta semua pihak yang terlibat dalam penanganan sampah plastik di Indonesia, bisa turut serta dalam penerapan dua elemen tersebut untuk program penanganan sampah laut secara nasional. Termasuk, lembaga milik Negara ataupun milik swasta yang sudah ada di Indonesia.

Oleh itu, upaya dengan melibatkan elemen inovasi dan teknologi tersebut diharapkan bisa memberikan sumbangan terbaik untuk penanganan sampah plastik di laut secara nasional. Kemudian, teknologi dan inovasi yang dihasilkan juga bisa disebarluaskan penerapannya sampai ke seluruh Nusantara, termasuk dengan menciptakan inovasi dan teknologi baru lainnya.

Warga memancing ikan diantara tumpukan sampah di pinggir laut Sedayulawas, Brondong, Lamongan. Jumlah timbulan sampah di Kabupaten Lamongan sebesar 2.147,63 m3/hari. Foto : Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Masyarakat

Menurut Agung, peran aktif masyarakat, beserta mitra industri dan semua unsur terkait, juga menjadi kunci dari keberhasilan penerapan elemen inovasi dan teknologi dalam upaya penanganan sampah plastik di laut secara nasional. Untuk itu, harus ada jalinan kerja sama yang erat antar semua pihak terkait.

“Pola pikir masyarakat untuk menjadi peduli terhadap lingkungan dan cinta laut yang sehat perlu ditanamkan sejak usia dini lewat pendidikan,” tuturnya.

Selain masyarakat yang terlibat secara langsung, Agung juga menyebutkan, pihak yang harus terlibat lebih jauh dalam pengelolaan sampah plastik, tidak lain adalah pemerintah daerah di seluruh provinsi. Keterlibatan mereka, diyakini akan bisa ikut mengendalikan jumlah sampah plastik yang ada di laut.

Dengan demikian, diharapkan akan muncul banyak kreasi dan inovasi untuk menangani sampah plastik yang ada di lingkungan tempat tinggal masyarakat di tiap-tiap daerah. Saat kondisi itu terjadi, pemerintah daerah memberikan dukungan melalui kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan sekitar.

Kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan, menurut Agung menjadi penting, karena itu juga tak hanya akan mendukung terwujudnya kelestarian lingkungan saja, namun juga berdampak positif pada ekosistem sungai yang akan bermuara di laut. Untuk itu, program restorasi sungai yang akan, sedang, dan sudah dilaksakan, itu berdampak pada pembersihan sampah plastik.

“Itu upaya penanganan dan penyelamatan laut dan ekosistemnya,” tegas dia.

Di sisi lain, Asisten Deputi Bidang Pendayaan Iptek Maritim Kemenko Marves Nani Hendiarti mengungkapkan, berdasarkan hasil kajian bersama dengan World Bank, sebanyak 80 persen sampah laut diketahui berasal dari aktivitas di darat yang masuk melalui sungai. Dari semua sampah yang masuk ke laut, sebanyak 45-70 persen diketahui adalah sampah plastik.

Agar persoalan sampah plastik di laut bisa diatasi, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No.83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut dan Rencana Aksi Nasional Tahun 2018–2025. Dalam Perpres tersebut, ditargetkan sampah plastik di laut bisa berkurang hingga 70 persen pada 2025 mendatang.

Peneliti Kimia Laut dan Ekotoksikologi Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Reza Cordova pernah menyampaikan hasil risetnya belum lama ini. Menurut dia, setiap tahun laut Indonesia diperkirakan mendapat kiriman berupa sampah plastik bekas konsumsi manusia dengan jumlah antara 100 ribu ton hingga 400 ribu ton.

lautan sampah di laut. Foto : Caroline Power/imgur/thegoodshoppingguide.com

Manusia

Kiriman sampah itu, katanya, memastikan bahwa manusia menjadi produsen sampah paling dominan di bumi ini. Asumsi sederhana namun kasar itu, didapat melalui penelitian yang dilakukan LIPI. Banyaknya produksi sampah, terutama plastik yang dikirim ke lautan Indonesia, secara langsung ikut menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai kawasan kotor dan penuh sampah.

“Apalagi, dari hasil penelitian, didapatkan fakta bahwa sampah yang ada di kawasan pesisir didominasi oleh plastik dengan prosentase antara 36 hingga 38 persen,” ungkapnya.

Reza menyatakan dari semua sampah yang masuk ke laut Indonesia, sebagian besar terdiri dari plastik dan karet, logam, kayu olahan, kain, lainnya, dan bahan yang berbahaya. Semua sampah itu, dibawa oleh aliran sungai dan juga beragam aktivitas manusia.

“Namun, dominasi bahan plastik masih sulit digeser oleh sampah yang berasal dari material lain,” ucapnya.

Mengingat banyaknya sampah yang berkumpul di kawasan pesisir, Reza mengingatkan kepada semua pihak untuk bersama menjaga lingkungan sedari usia dini. Perhatian masyarakat menjadi sangat penting dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Berkaitan dengan sampah laut, khususnya sampah plastik dan mikroplastik, Reza menuturkan bahwa keterlibatan semua pihak, dari Pemerintah hingga masyarakat adalah hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar lagi. Salah satu cara menanggulangi sampah jenis tersebut, masyarakat dihimbau untuk bisa mengurangi konsumsi plastik, terutama yang sekali pakai dan menghindari penggunaan mikroplastik dalam bahan kosmetik.

“Sehingga itu membantu kelestarian laut Indonesia dan dunia,” sebutnya.

Anakan penyu yang berenang diantara lautan sampah. Foto : wochit youtube/Mongabay Indonesia

Untuk kajian yang dilakukan LIPI sendiri, Reza mengatakan bahwa itu dilaksanakan di 18 pantai yang sudah dipilih. Semua pantai itu menjadi titik utama untuk dilakukan penelitian dan pemantauan setiap bulan. Selama melakukan penelitian, pemantauan sampah terdampar diakuinya menjadi salah satu perhatian utama yang dilakukan oleh tim.

Selain pemantauan sampah terdampar, Reza mengungkapkan, tim juga menjadikan 13 lokasi pesisir sebagai kawasan uji sampel mikroplastik di permukaan air. Kemudian, ada juga delapan lokasi untuk pengujian mikroplastik di sedimen dan 10 lokasi untuk pemantauan satu genus ikan teri (Stolephorus sp.). Dari semua aktivitas pemantauan itu, ditemukan fakta bahwa mikroplastik bisa ditemukan pada seluruh lokasi kajian, baik pada permukaan air, sedimen, maupun pada tubuh ikan.

Menurut Reza, mikroplastik terbanyak ditemukan pada permukaan air di Sulawesi Selatan dan Teluk Jakarta dengan rerata 7,5 hingga 10 partikel per meter kubik. Kemudian, pada sedimen yang diteliti di perairan Aceh, Sulawesi Selatan dan Biak, Papua, ditemukan lebih dari 100 partikel per kilogram. Terakhir, dari hasil penelitian juga ditemukan mikroplastik pada ikan teri dengan 0,25 hingga 1.5 partikel per gram. “Atau antara 58 hingga 89 persen pada setiap ikan teri,” ucapnya. (Red)

Sumber : mongabay.co.id

IKLAN DPP HIMAPSI

File Iklan Andi Simanjuntak

Share

Baca Juga