Analisa Mantan Napiter soal Pemilihan Surabaya sebagai Lokasi Teror

Salingnews.com – Serangkaian aksi bom bunuh yang terjadi di 3 gereja di Surabaya dan Polrestabes Surabaya membuat publik bertanya-tanya alasan bomber memilih ibu kota Jawa Timur itu sebagai lokasi sasaran teror. Mantan narapidana terorisme, Ali Fauzi, mengungkapkan analisisnya soal dipilihnya Surabaya sebagai lokasi sasaran teror.

Alasan yang pertama, menurut Ali, adalah status Surabaya sebagai kota metropolis yang berada di bawah Jakarta. Sehingga harapannya, dengan adanya teror di sana akan diikuti di kota-kota lainnya.

Diskusi memutis mata rantai gerakan terorisme

Diskusi Memutus Mata Rantai Gerakan Terorisme (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

“Surabaya diduga bisa menjadi miftah usyiro untuk wilayah lainnya, dengan melakukan aksi di Surabaya. Karena Surabaya sebetulnya masuk kota metropolis. Levelnya hanya di bawah Jakarta, maka harapan kelompok ini kalau sudah terjadi kerusuhan di Surabaya, akan menimbulkan dampak lain bagi kota-kota yang ada di Indonesia,” ujar Ali dalam diskusi “Memutus Mata Rantai Gerakan Terorisme, Mungkinkah?: Kegagalan dan Keberhasilan Deredikalisasi” di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).

Pria yang kini menjadi praktisi deradikalisasi tersebut menyatakan hal itu berhasil karena terjadi aksi susulan di Riau. “Ternyata miftah usyiro yang mereka angan-angankan terjadi di Pekanbaru, Riau,” ungkapnya.

Selain itu, Surabaya dipilih karena dikenal sebagai tempat persaingan antar ‘pengantin’. Diketahui, di sana ada banyak kelompok radikal, seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jammah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS).

“Surabaya dikenal di kalangan ikhwan jihadis sebagai kota persaingan gengsi antara kelompok pengusung jihad. Di Surabaya ada JI, ada JAD, ada JAS, ada JAT,” ujar adik Amrozi tersebut.

Tidak hanya itu, di Surabaya juga banyak toko kimia yang menjual bahan baku untuk membuat bom dan itu legal. Harganya juga terbilang murah.

Di Surabaya juga ada banyak mantan anggota JI yang menyeberang ke JAD, yang mampu merakit dan meracik bom. Mereka juga telah memahami lokasi Surabaya, sehingga memudahkan mereka dalam melancarkan serangan.

“Karena untuk melakukan planning, mapping orang Surabaya ke Jakarta tentu butuh waktu. Sedangkan ini adalah respon tindak balas yang di Mako (Brimob). Tentu yang dipikirkan adalah yang penting meledak,” pungkasnya. (Red)

Sumber : kumparan.com

Share

Baca Juga