Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Salingnews.com – Kecewa terhadap sikap, kinerja, dan kebijakan Jokowi, muncul tagar #2019GantiPresiden. Belakangan, massa yang dikomandoi Neno Warisman ini melakukan deklarasi. Apa yang dideklarasikan? Gerakan 2019 Ganti Presiden.

Deklarasi ini berhasil memengaruhi opini rakyat. Sebagai bukti, elektabilitas Jokowi berangsur turun. Rakyat yang ingin ganti presiden lebih—dan makin–banyak jumlahnya.

jokowi ahok

Presiden Jokowi dan Ahok meninjau MRT pada 2016. (Foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

Deklarasi ini lalu dipersekusi. Dilarang karena dianggap makar. Mereka yang memakai kaos #2019GantiPresiden dicegat di jalan, dipaksa copot, dan sebagian kaosnya dirobek-robek. Meski semua pakar hukum, termasuk Prof. Dr. Mahfudz MD menyatakan bahwa dekalarasi #2019GantiPresiden tidak melanggar hukum, dan tidak memiliki unsur makar.

“Mereka yang memakai kaos #2019GantiPresiden dicegat di jalan, dipaksa copot, dan sebagian kaosnya dirobek-robek. Meski semua pakar hukum, termasuk Prof. Dr. Mahfudz MD menyatakan bahwa dekalarasi #2019GantiPresiden tidak melanggar hukum, dan tidak memiliki unsur makar”

– –

Faktanya, gerakan ini tetap dilarang. Deklarasi tidak lagi diizinkan.

Saat ILC ingin mengangkat tema ini, mendadak batal tayang. Berbagai pihak coba konfirmasi ke Karni Ilyas, produser merangkap host ILC ini menjawab: “Tidak semua yang kita rasakan bisa dikatakan. Tidak semua yang kita alami bisa diceritakan”. Membaca curhat Karni Ilyas ini, Anda mestinya bisa merasakan yang Karni Ilyas rasakan.

Tidak hanya deklarasi #2019GantiPresiden dan ILC yang dipersekusi, tapi nasib sama menimpa Ustaz Abdul Somad (UAS). UAS terpaksa membatalkan semua jadwal ceramahnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena ada intimidasi. Pihak mana yang intimidasi? Tanya pada UAS. Kenapa tak lapor ke polisi? Tanya juga ke UAS.

Selain UAS, Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet juga berada dalam pengawasan. Siapa yang ngawasi? Pakai nanya lagi. Mereka berdua boleh bicara di seminar, tapi waktunya dibatasi. Seminarnya pun diawasi.

Beberapa hari lalu (Jumat, 14/9), mahasiswa turun. Mereka demonstrasi besar-besaran. Mahasiswa bergerak secara nasional dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hanya menyisakan Papua. Tak tanggung-tanggung. Mereka minta Jokowi mundur. Ngeri kali, kata orang Medan.

Sudah terlalu lama rakyat merindukan suara nurani mahasiswa. Kerinduan itu sekarang terjawab. Mahasiswa serentak turun dan menuntut Jokowi mundur. Dahsyat!

Mahasiswa sudah bangun dan sadar, kata sejumlah orang di medsos. Bukan kata orang-orang di TV? TV masih tidur. Tak ada slot untuk bicarakan mahasiswa. Apalagi talk show membahas demonstrasi dengan tuntutannya. ILC pun tak berani angkat tema itu. Takut gagal tayang lagi.

Selama ini rakyat meragukan peran dan kiprah mahasiswa. Sepi, sunyi, dan senyap. Lalu muncul dugaan. Apakah mahasiswa sekarang IP-oriented? Segera lulus dengan nilai cumlaude, lalu dapat kerja. Atau mahasiswa sedang dalam tekanan rektor, karena rektor dalam pengawasan menteri. Begitulah kalau jabatan rektor dipilih dan ditunjuk menteri.

Atau mahasiswa sudah pinter cari duit? Plesiran pakai tiket pesawat gratis. Itu mahasiswa yang sudah masuk angin. Memang ada mahasiswa yang masuk angin? Kalau demo mahasiswa berhenti, ada dua kemungkinan. Pertama, tuntutannya dipenuhi. Ekonomi membaik. Nilai tukar rupiah menguat, dan dolar turun. Kedua, ekonomi tak berubah, tapi demo berhenti. Kalau begitu, patut diduga mahasiswa sudah masuk angin.

Kenapa Jokowi harus mundur? Mahasiswa menganggap Jokowi tidak kompeten mengurus negeri ini. Terutama soal ekonomi. Lebih baik mundur dari pada ekonomi negeri ini makin terpuruk.

Minta Jokowi mundur, apakah bukan tindakan makar? Jika deklarasi #2109GantiPresiden dipersekusi dan dilarang karena dianggap makar, bagaimana dengan mahasiswa yang minta Jokowi mundur? Hingga hari ini, belum ada pernyataan itu. Setidaknya dari juru bicara istana.

Setelah mahasiswa, kini giliran ulama yang berafiliasi dengan 212 mengadakan Ijtima Ulama kedua (Minggu,16/9). Hasilnya? Bertekad akan melengserkan Jokowi di Pilpres 2019. Mereka akan bergerak dan menjadikan seluruh rumahnya menjadi posko-posko untuk menumbangkan Jokowi di Pilpres 2019.

Jokowi telah terkepung. Posisinya saat ini ditekan oleh massa deklarasi #2019GantiPresiden, jutaan jemaah UAS, puluhan ribu mahasiswa di sejumlah wilayah di Indonesia, kelompok LSM dan akademisi yang sekata dengan Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet. Serta massa yang bergabung dalam gerakan 212 GNPF ulama.

“Jokowi telah terkepung. Posisinya saat ini ditekan oleh massa deklarasi #2019GantiPresiden, jutaan jemaah UAS, puluhan ribu mahasiswa di sejumlah wilayah di Indonesia, kelompok LSM dan akademisi yang sekata dengan Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet. Serta massa yang bergabung dalam gerakan 212 GNPF ulama”.

– —

Mereka semua adalah massa militan. Mereka satu tujuan: ingin ganti presiden. Kecuali mahasiswa yang ingin segera Jokowi mundur. 2019 terlalu lama.

Selain mereka, ada para ekonom seperti Kwik Kian Gie, Rizal Ramli, dan Faisal Basri yang terus menggempur kinerja ekonomi Jokowi.

Suasana Pilpres 2019 mirip Pilgub DKI. Di mana letak miripnya? Pertama, lahir gelombang besar massa yang hanya punya satu keinginan: tumbangkan Jokowi di Pilpres 2019. Tak terlalu penting siapa yang akan gantikan Jokowi. Yang penting, Jokowi kalah. Mirip Pilgub DKI 2017 bukan? Karenanya, kelompok ini dikenal dengan kelompok ABJ (Asal Bukan Jokowi).

Kedua, kelompok massa ini bertebaran dan bekerja secara militan, massif, dan terpisah dari timses. Mereka bukan tim pemenangan, tapi tim yang hanya ingin mengalahkan Jokowi. Karena itu, logistik mereka berbasis pada saweran umat. Mirip saat Pilgub DKI.

Ketiga, mereka melawan incumbent dengan elektabilitas tertinggi. Didukung koalisi mayoritas dan logistik tanpa batas. Seperti saat Pilgub DKI 2017 saat Ahok sebagai incumbent diduga di-back up total oleh kekuasaan, partai mayoritas, dan logistik tak terbatas. Kendati begitu, Ahok tetap kalah.

Apakah Jokowi akan bernasib seperti Ahok? Mudah cara mengukurnya. Jika setelah deklarasi, demonstrasi, dan Ijtima Ulama itu elektabilitas Jokowi terus turun, ada tanda-tanda benteng istana mulai jebol. Kekuatan koalisi, logistik, dan operasi tim senyap yang dimiliki Jokowi tak lagi ampuh untuk membendung gerakan massa itu.

Apalagi jika reaksi tim Jokowi tak proporsional, maka akan memperbesar gelombang opini yang berpotensi semakin meruntuhkan elektabilitas Jokowi. Jika ini terjadi, Jokowi bisa bernasib seperti Ahok. Kalah!

Sebaliknya, jika Jokowi menang, maka Jokowi benar-benar tangguh. Apapun cerita yang dibuat, harus diakui Jokowi terlalu kuat untuk dikalahkan. (*)

Sumber : kumparan.com

Share

Baca Juga