Dinri Girsang: Memilih Kolom Kosong Adalah Suara Sah, Tapi Bukan Solusi

Salingnews.com – Pematangsiantar | Sejumlah kelompok masyarakat di Kota Pemangsiantar telah mewacanakan gerakan untuk memilih Kotak Kosong atau yang dikenal dengan “kolom kosong” pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember yang akan datang. Hal ini menuai respons dari salah seorang aktivis perempuan, Dinri Septia Marito Girsang.

IMG-20200916-WA0008Ket Foto : Dinri Septia Girsang Mahasiswi Aktif di Universitas Simalungun (kader HIMAPSI Kota Pematangsiantar)

Menurutnya, menjatuhkan pilihan pada kolom kosong adalah hak setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah memenuhi syarat sebagai memilih, dan dinyatakan sah secara hukum sebagaimana tertuang di Undang- undang Pilkada dan Peraturan KPU.

“Namun, menurut analisa pribadi saya, mengkampanyekan kotak kosong adalah tindakan yang kurang bijak. Sepertinya ada faktor sentimen disana. Sentimen terhadap pasangan calon yang telah mendaftar,” ujar Dinri saat diwawancarai wartawan, Rabu 16 September 2020, sekira pukul 10.00 WIB di Kampus Universitas Simalungun.

Sebagai insan intelektual, apabila pilihannya antara pasangan calon dengan kolom kosong, yang lebih menguntungkan masyarakat Kota Pematangsiantar adalah memilih pasangan calon. Karena apabila kolom Kosong yang meraih suara terbanyak, dapat dipastikan Kota Siantar akan dipimpin seorang Pejabat Sementara (Pjs) atau Pelaksana Tugas (Plt).

“Sebagaimana kita ketahui dan telah pernah terjadi di Kota Siantar, ketika dipimpin Pjs atau Plt, kekuasaannya terbatas dan pembangunan dipastikan akan berjalan stagnan. Kan kita tidak mau berjalan stagnan, mengingat saat ini kondisi masyarakat sedang mengalami krisis ekonomi dampak Covid 19,” ketus aktivis perempuan, yang juga kader Himapsi Kota Pematangsiantar itu.

Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Simalungun itu mengajak masyarakat Kota Pematangsiantar untuk lebih fokus mendebatkan visi dan misi pasangan calon yang mendaftar.

Apabila visi dan misi pasangan calon tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, bisa jadi berujung kepilihan kolom Kosong.

“Kalau terpilih jadi walikota, apa yang akan saudara lakukan? Siantar mau dibawa kemana? Bagaimana strategi anda mengatasi krisis ekonomi? Bagaimana langkah yang akan dilakukan dalam memerangi Covid 19? Mungkin dengan menyampaikan pertanyaan pertanyaan tersebut, jauh lebih baik daripada mengkampanyekan kotak Kosong,” jelasnya.

Jawaban dari pertanyaan itu, lanjutnya, masyarakat dapat menyimpulkan apakah jawabannya masuk akal atau hanya sebatas teori. Apakah strateginya relevan dan mampu untuk diterapkan atau tidak?

“Bisa saja jadi blunder, ketika si calon tidak memahami psikologi masyarakat Siantar. Jadi, lebih baik kita buat debat publik antara calon dengan masyarakat Siantar. Teknisnya bisa secara langsung dengan mematuhi protokol kesehatan, dan juga bisa secara daring (online),” pungkas gadis pemilik paras cantik itu. (Tim/Red)

Share