Entah Apa Yang Merasuki Isi Kepala Wali Kota Pematangsiantar

Salingnews.com – Pematangsiantar | Entah apa yang merasukimu pak Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah Noor. Mungkin itulah kata pengantar terlebih dahulu untuk meneruskan subtansi dari kata ‘Merasuki’.

Kali saja efek tidak mendapatkan partai politik untuk mengikuti kontestasi pilkada sehingga imbuhan buah bibirnya sering ngasal atau benar-benar bukan pemimpin?

Polish_20200811_155708420Ket Foto : Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah Noor/Dedi Damanik

Hari ini, para awak media saat sedang mencoba menanyakan esensi kunjungan Wali Kota Hefriansyah Noor ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) beberapa waktu yang lalu, Hefriansyah tampak emosional menyampaikan jawaban atas pertanyaan awak media sembari mengarahkan jari telunjuk kearah kepalanya.

Wali Kota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor ditemui saat usai menghadiri rapat paripurna IV dengan agenda Penyampaian Nota Pengantar Wali Kota Pematangsiantar atas rancangan KUA dan rancangan PPAS APBD Kota Pematangsiantar TA 2021, pada Selasa (11/08/2020) di gedung Harungguan Bolon DPRD, Hefriansyah terkesan cuek dan beberapa kali menyatakan hal yang tidak pantas.

Saat dikonfirmasi beberapa wartawan soal maksud kedatangannya ke Sekretariat Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) beberapa waktu lalu, Hefriansyah malah balik menanyakan informasi tersebut berasal darimana.

“Siapa yang bilang, kalian tanya samaku. Makanya cari informasi itu yang akurat jangan mengada-ada. Pakai ini,” ucapnya sembari menunjuk kepalanya.

Saat kembali dicecar pertanyaan yang sama, Hefriansyah tampak seperti emosional.

“Makanya informasinya jelas. Coba konfirmasi ke KASN,” ujarnya sembari menghidupkan mobilnya.

Ketika hal itu disampaikan dan telah dikonfirmasi ke KASN langsung, Wali Kota pertanyakan apa yang disampaikan oleh KASN.

“Kata Kusen itu apa? makanya kau cari pakai otak,” sebutnya kemudian meninggalkan awak media.

Usai Wali Kota Siantar Melontarkan Jawaban Emosional, Ini Tanggapan Beberapa Anggota DPRD

Selaku kepala daerah harusnya dia itu memiliki etika, begitulah kutipan yang dinyatakan oleh Ferry Sinamo politisi dari PDIP ini.

Ia menganggap kalau Wali Kota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor tidak memiliki etika dan tidak memiliki nilai-nilai kebangsaan dalam menjawab pertanyaan wartawan.

“Wartawan itu juga kan pilar dari pembangunan. Apapun kinerja kita selaku Aparatur Negara, kalau kita tidak didukung oleh pers maka kinerja kita itu tidak nampak dan tidak diketahui oleh masyarakat. Maka pers ini adalah salah satu pilar dari pembangunan itu,” ujar Ferry Sinamo.

Masih dengan anggota DPRD Kota Pematangsiantar dari fraksi PDIP lanjut mengatakan, ketika wartawan itu melakukan konfimasi seharusnya dijawab dengan sopan dan dijawab sesuai dengan jabatannya.

“Dia itu jangan menjawab pertanyaan seperti preman. Kalau ada pemberitaan yang keliru harus diluruskan. Jangan menggunakan kata-kata pakai otak. Kita ini semua manusia kan pakai otak, binatang saja pakai otak jangan seperti itu omongannya selaku kepala daerah. Saya menilai kalau dia itu tidak menunjukkan etika selaku kepala daerah. Dia itu tidak lagi memiliki nilai-nilai kebangsaan sudah melebihi seperti anak-anak yang sedang bersungut-sungut,” ujarnya.

Selaku DPRD Kota Pematangsiantar yang juga pernah berprofesi sebagai wartawan merasa tersinggung atas ucapan yang terlontar dari bibir Wali Kota.

“Dia itu harus menarik bahasanya dan meminta maaf. Saya sampai hari ini sebagai anggota PWI yang memang sedang nonaktif merasa keberatan kalau begitu bahasa seorang pejabat. Seharusnya diluruskan, jangan omongan seperti itu. Manusia ini sejak dilahirkan pun sudah punya otak. Tidak sepantasnya seperti itu pernyataan Walikota. Dia kan pejabat tertinggi di Kota ini seharusnya dia memberikan tauladan, cara berbicara baik, dan seharusnya dia memberikan contoh yang baik juga,” tegasnya.

Politisi PDIP lainnya, Baren Alijoyo Purba menganggap bahwa Hefriansyah sedang mengalami tekanan sehingga stres, namun tidak pantas seorang kepala daerah berbicara seperti itu kepada wartawan.

“Media itukan sahabat dari pemerintahan. Saya pegawai biasa dulunya banyak lika-likunya tapi tak pernah saya sampaikan seperti itu,” ujarnya.

Baren mengatakan jangan melontarkan ucapan yang dapat menyakiti wartawan.

“Wartawan itu dilindungi undang-undang dan harus dihargai. Kalau pun salah mereka itu punya atasan,” ujarnya.

Penulis : Dedi Damanik
Editor : Dedi Damanik

Share