Galian C Ilegal Miliki Peran Terhadap Musibah Banjir di Tanjung Pinggir

IMG_20200714_170221Foto : Galian C Ilegal Miliki Peran Terhadap Musibah Banjir di Tanjung Pinggir. Korban Jiwa Yang Jasadnya Ditemukan Sehari Setelah Musibah Banjir (blur).

Salingnews.com – Pematangsiantar
Musibah banjir beberapa hari lalu yang terjadi di Kota Pematangsiantar telah mencatat sejarah kelam terhadap minimnya penegakan, pengawasan, serta penegasan tata ruang wilayah.

Kejadian sama tiga tahun terakhir kini membawa duka kembali yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Selain korban jiwa, ternyata disisi lain dampak banjir di Tanjung Pinggir telah merusak beberapa rumah hunian masyarakat sekitar.

Merasa tidak perlu untuk mengevaluasi kinerja selama ini, kini masyarakat terus menjadi korban kemurkaan alam.

Meskipun musibah banjir yang terjadi di Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar, disebut-sebut diakibatkan oleh faktor alam dan intensitas curah hujan yang tinggi. Namun, pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan adalah hal paling utama.

Minimnya pengendalian dan pengawasan terhadap pemanfaatan sumber daya alam pun hampir tidak ada sama sekali. Padahal, pengendalian tersebut mampu meminimalisir terjadinya musibah banjir.

Tahun 2017 lalu, banjir di Tanjung Pinggir telah memakan korban jiwa sebanyak satu orang yang jasadnya setelah berhari-hari baru bisa ditemukan.

Nico Sinaga seorang pegiat (aktivis) lingkungan di organisasi Sahabat Lingkungan (SaLing) menyampaikan kekecewaannya lewat telepon. Bahkan Nico sendiri menginginkan periode kepemimpinan Walikota Pematangsiantar yang di nakhodai Hefriansyah Noor tidak berlanjut karena dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan masyarakat terutama di bidang lingkungan hidup.

Saat hendak menelusuri daerah Tanjung Pinggir, media Salingnews.com menemukan adanya galian golongan C yang diduga tidak memiliki izin. Galian dengan menggunakan Escavator itu serta ditemukan adanya dumptruck pengangkut material, bebas beroperasi tanpa memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Menurut Nico, adanya galian golongan C di daerah Tanjung Pinggir disebut memiliki peran atas musibah kebanjiran yang menelan korban jiwa tersebut.

“Sebelum adanya galian C di daerah itu, semuanya berjalan dengan baik. Daerah Tanjung Pinggir secara teritorial berada di dataran rendah. Jadi, perlu penahan air seperti keasrian hutan dan kekokohan tanah. Kita lihat aja disana ada galian tanah urug yang mengeruk habis. Galian disana sudah jelas ilegal, menurut Dinas ESDM Wilayah III Provinsi Sumatera Utara, hanya ada sepuluh izin usaha yakni di Kabupaten Simalungun. Dan untuk di Kota Pematangsiantar tidak ada sama sekali izin galian C,” ungkapnya, Selasa (14/07/2020).

Ia meminta kepada Kepolisian agar menindak tegas galian C yang berada di Tanjung Pinggir tersebut. Karena menurutnya, galian C di Tanjung Pinggir salah satu penyumbang musibah banjir yang menelan korban jiwa.

“Galian C yang tidak memiliki izin itu, salah satu penyumbang musibah banjir. Kita minta keseriusan Kepolisian untuk menindak tegas perbuatan tindak pidana yang telah diatur di dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” tegasnya.

(DD/Tim)

Share