Guru Besar ITB : “Pembangunan PLTA Batang Toru  Berada Dalam Zona Merah, Ring Of Fire Indonesia”

Salingnews.com – Medan.  Sidang Gugatan Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terhadap Gubernur Sumatera Utara di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dengan Nomor Register 110/G/LH/2018/PTUN-MDN telah memasuki agenda penyampaian keterangan dari saksi-saksi. Pada sidang ke-13 yang digelar 7 januari 2019, WALHI Sumatera Utara menghadirkan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr.Eng.Ir. T.A. Sanny M.Sc sebagai saksi ahli.

saksi

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr.Eng.Ir. T.A. Sanny M.Sc  saat memberikan keterangannya sebagai saksi

Dalam keterangannya beliau menyampaikan bahwa Indonesia ditekan oleh lempeng  Australia. Zona merah berada di ujung Pulau Sumatera khususnya Aceh dan Sumatera Utara karena merupakan daerah patahan terbesar.

Terkait lokasi pembangunan PLTA Batang Toru, menurutnya lokasi tersebut berada dalam zona merah Ring of Fire Indonesia. Lokasi tersebut juga merupakan daerah sesar gempa atau Fault Line. Zona merah dalam ilmu geofisika adalah zona kritis yang seharusnya perlu dilakukan kajian detil jika ingin ada pembangunan di sana.

“Dam itu adalah bangunan yang mempunyai resiko besar, istilahnya high risk building. Jika ingin melakukan pembangunan di sana maka  perlu kajian secara detil yang mencakup semua aspek seperti manusia, tata ruang, lingkungan dan alam, serta sosial” Ujar Guru Besar ITB ini.

Beliau menambahkan bahwa harusnya dalam kajian Amdal,  terdapat hasil kajian terkait geologi dan geofisika yang detil. Dalam dokumen ijin lingkungan atau AMDAL harusnya tercantum informasi-informasi terkait geologi dan geofisika yang detil dan informatif. Karena memang ini berimplikasi besar terhadap keseimbangan alam. Patahan atau sesar ini seperti efek domino yang jika terjadi patahan di satu daerah implikasinya akan ke daerah-daerah lain.

 #walhisumut#walhi #savebatangtoru   #saveorangutantapanuli

Oleh : Walhi Sumatera Utara

“Kita harus belajar dari Negara Jepang yang memang sudah lebih serius dalam menangani permasalahan ini. Jangan nanti setelah infrastruktur dibangun, hanya dalam hitungan menit hancur semuanya karena tidak pernah dilakukan kajian-kajian geofisika. Saya sudah sampaikan itu kepada Bapak Presiden”, tambah Guru Besar ITB tersebut kepada wartawan. (Tim/AS)

Share

Baca Juga