Gusmiyadi : “ Walikota Pematangsiantar Keliru Menilai People Power”

Salingnews.com – Pematangsiantar. Terkait adanya statemen Walikota Pematangsiantar Hefriansyah Noor terkait People Pawer yang mengharamkan aksi tersebut. Selain itu, Hefriansyah juga melontarkan ucapan yang Prokontra ditengah – tengah Warga Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, terkait People Pawer.

“Jadi berbicara people power, sedikitpun masyarakat Pematangsiantar tidak terkontaminasi. Dan aku yakin tidak ada yang akan berangkat. Yang berangkat orang gila itu,” Sebut Hefriansyah di kutip dari Media TagarNews.id, Sabtu 18/05/19).

FB_IMG_1558113409936~2

Gusmiyadi (Goben) Aktifis Indonesia Bergerak

Menanggapi Statemen Hefriansyah tersebut. Gusmiyadi mengatakan bahwa  ada Kesalahan serius dalam menilai people power, ketika dikaitkan langsung dengan upaya makar. Bagi mereka yang tidak memahami sejarah, tentu berpotensi keliru dalam memberikan penilaian atas fenomena ini.

Gusmiyadi menyebutkan bahwa yang pertama,  people power adalah demonstrasi atau unjuk rasa untuk menyampaikan pendapat dan diperbolehkan oleh UU.

Kedua, sejarah pergantian orde pada bangsa ini, sangat erat kaitannya dengan people power. Jika  kita sebutkan itu sebagai langkah inkonstitusional, maka tentu status kebernegaraan kita hingga saat ini layak dipertanyakan.

Ketiga, people power yang didengungkan saat ini bertujuan untuk mengurai benang kusut atas dugaan kecurangan pemilu dan meminta pembentukan TPF atas meninggalnya ratusan petugas KPPS, KPU, Bawaslu hingga Polri. Tentu ini positif dalam rangka menghadirkan kejernihan dalam proses demokrasi kita.

“Nah atas tujuan yang demikian itu,  untuk menjaga marwah dan kualitas demokrasi kita, tentu setiap orang memiliki hak untuk terlibat. Termasuk warga Siantar. Bahkan saya juga mengamati, aksi 212 yang terjadi 2 tahun yang lalu, juga melibatkan beberapa orang warga Siantar. Tentu saja mereka gila ?., karena sedikit orang yang mau berjuang pada level itu”. Sebut Gusmiyadi yang juga Aktifis Indonesia Bergerak  itu.

Beliau juga menambahkan bahwa dalam situasi seperti ini, setiap pejabat publik diharapkan dapat lebih berempaty terhadap kondisi psikologis masyarakat.

“Statemen-statemen yang kontraproduktif tidak akan mampu memperbaiki keadaan. Jauh dari itu, tentu akan menciptakan bola liar dan keresahan bagi masyarakat”. Ucap Kader Partai Gerindra tersebut. (Red/AS)

Share

Baca Juga