Hadapi Krisis Pangan di Tengah Pandemi, Polentyno Girsang Tawarkan Solusi ke Presiden RI

IMG-20200708-WA0009Ket Foto : Dr. med. dr. Polentyno Girsang, SpB, KBD, FinaCS, FICS usai mengikuti Webinar bersama Kemenristekdikti RI

Salingnews.com – Pematangsiantar
Untuk menyikapi situasi pandemi Covid-19 yang kian menggerogoti perekonomian Nasional bahkan hingga tingkat daerah, dikhawatirkan situasi pandemi ini berdampak buruk terhadap beberapa sektor.

Sektor yang menjadi perhatian khusus yaitu sektor sandang pangan. Dan bukan tidak memungkinkan bahwa dampak dari pandemi Covid-19 akan berujung tragis terhadap sektor sandang pangan Negeri.

Polentyno Girsang anggota Pembina Yayasan Universitas Simalungun menyikapi hal tersebut dengan mengambil kesempatan dalam penyampaian solusi via webinar bersama dengan staf Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Mengingat situasi pandemi Covid-19 yang tidak dapat diprediksi kapan berakhir, melalui lembaga Pendidikan Tinggi Universitas Simalungun, Polentyno Girsang mengungkapkan langkah strategis mengantisipasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang akan berdampak buruk juga terhadap krisis pangan.

Siantar-Simalungun Ternyata Pernah Menjadi Lumbung Padi Pada Tahun 1960-1990

Berdasarkan predikat pada masa 1960-1990, ternyata Siantar-Simalungun pernah menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Nusantara.

Menyikapi kondisi yang mulai mempengaruhi sektor pangan atas dampak dari pandemi Covid-19, Polentyno Girsang yang memiliki basic ilmu kesehatan membeberkan strategi untuk mengantisipasi krisis pangan.

Dalam keterangannya, disebutkan adanya beberapa sarana dan prasarana guna mencapai strategi mengantisipasi krisis pangan.

Di daerah Kabupaten Simalungun telah tersedia lahan kering seluas 200Ha lahan eks perkebunan Good Year USA yang Hak Guna Usaha (HGU) tersebut telah berakhir pada tahun 2000 lalu.

Selain itu, untuk daerah Kota Pematangsiantar telah tersedia lahan kering seluas 573Ha yang berada di Tanjung Pinggir eks PTPN III yang Hak Guna Usaha (HGU) tersebut telah berakhir pada 20 tahun yang lalu.

Menurut Polentyno Girsang, lahan kosong tersebut diharapkan dapat menjadi satu sarana yang nantinya akan ditanami bibit-bibit padi.

Mengadopsi isi dari pidato Presiden Republik Indonesia Joko Widodo perihal pemanfaatan kearifan lokal bagi tiap pemerintah daerah untuk dapat segera mengatasi krisis pangan di daerah masing-masing.

Atas kesempatan itu, Polentyno Girsang menginginkan lahan kosong yang ada di Siantar-Simalungun untuk ditanami dengan bibit padi Gogo.

Penanaman bibit padi Gogo dinilai satu langkah awal yang sangat strategis untuk dapat menghindari krisis pangan dan dapat kembali membuat Siantar-Simalungun sebagai lumbung padi seperti pada tahun sebelumnya yakni tahun 1960-1990.

Wacana tersebut diasumsikan akan menghasilkan 3500 ton padi per hektarnya yang dimana lahan tersebut diharapkan penggunaannya seluas sekitar 700Ha dan mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Siantar-Simalungun kedepannya.

“Baru saja usai Seminar Nasional bersama dengan Kemeristekdikti terkait peran pendidikan tinggi dalam mengantisipasi krisis ekonomi yang akan berdampak terhadap krisis pangan. Kita menawarkan wacana melalui beberapa strategi yang nantinya dapat diharapkan Siantar-Simalungun kembali menjadi salah satu lumbung padi Nusantara,” terangnya saat ditemui di gedung Rektorat Universitas Simalungun.

Ungkapan rasa terimakasih disampaikan Polentyno Girsang kepada Presiden RI melalui Kemenristekdikti yang telah memberikan kesempatan untuk menerangkan wacana ataupun strategi dalam mengantisipasi krisis pangan.

“Kiranya wacana ini dapat terlaksana secepatnya, kita siap membantu dan mendukung pemerintah melalui kreatifitas yang kita miliki,” ungkapnya, Rabu (08/07/2020).

Tinjauan perpustakaan dan data-data hasil lapangan oleh Sdr Toni Saritua Purba SP, bahwa padi Gogo dapat di tanam pada lahan kering dan lahan basah.

Seperti di Sumatera Utara antara lain Pematang Bandar, Sidamanik, Tiga Balata, Tiga Dolok, dan Desa Siporkas di Pematang Raya, Toni telah melakukan observasi pada bibit padi Gogo yang dapat tumbuh subur.

(DD/Tim)

Share