Himapsi Siantar Tuding Dinas Tarukim Lecehkan Raja Sang Naualuh Damanik

IMG-20191223-WA0000

Salingnews.com – Pematangsiantar. Protes terhadap proses revitalisasi Taman Simpang Rambung Merah Pematangsiantar semakin memanas. Awalnya, Dewan Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (DPC-Himapsi) Pematangsiantar hanya mengkritik kesan ketertutupan pengerjaan proyek tersebut. Namun kali ini kritiknya semakin memanas. DPC Himapsi Siantar menuding Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarukim) telah melecehkan Raja Sang Naualuh Damanik.

FB_IMG_1576919469688

Bangunan Mirip monumen di Taman Simpang Rambung Merah. Sebelumnya adalah mencantumkan tulisan berupa Petuah dari Tugu Raja Sangnaulaluh, yang kini di ganti jadi monumen Ayam. Sabtu (21/12/19).

Ketua DPC Himapsi Siantar Jonli Simarmata mengatakan, tindakan Dinas Tarukim yang terkesan seenaknya saja mengganti tulisan petuah Raja Sang Naualuh dalam bangunan mirip monumen di taman tersebut, adalah pelecehan terhadap Raja Sang Naualuh Damanik. Hal ini disampaikannya menanggapi keterangan pihak Dinas Tarukim yang menyatakan telah mengganti tulisan dalam bangunan mirip monumen dimaksud.

Jonli menguraikan, sebenarnya di awal pihaknya protes karena pengerjaan proyek tersebut terkesan tertutup. Padahal, dalam bangunan di proyek tersebut ada mencantumkan tulisan berupa petuah dari Raja Sang Naualuh Damanik, yang merupakan tokoh yang tergolong sebagai pahlawan, yang tidak terpisahkan dari masyarakat secara khusus Simalungun.

IMG-20191221-WA0002

Bangunan mirip monumen di Taman Simpang Rambung Merah sebelum di ganti jadi monumen Ayam.

“Kita tidak mempersoalkan petuah tersebut dicantumkan. Malah kita bangga. Yang kita persoalkan adalah prosesnya. Kemudian kita mengkritik karena marga dari Raja Sang Naualuh tidak dicantumkan. Itu yang kita kritik. Ya kalau pencantuman petuah itu kita sangat bangga,” kata Jonli, Sabtu (21/12/19) sore.

Baca Juga ;  Revitalisasi Taman Simpang Rambung Merah, Menuai Kritik Dari Himapsi Siantar

Namun kemudian, berdasarkan keterangan dari pihak Dinas Tarukim yang mengatakan telah mengganti tulisan itu, disini lah menurut Jonli pihak Dinas Tarukim sudah melakukan pelecehan terhadap Raja Sang Naualuh Damanik.

“Petuah Raja Sang Naualuh itu kan sesuatu yang sakral dan mengandung nilai-nilai filosofis yang tinggi. Kenapa pihak Dinas Tarukim menggantinya dari bangunan itu. Apalagi alasannya sangat sepele. Terlalu ribet katanya. Membuat petuah raja kok dibilang ribet? Kalau memang di awal tidak komitmen mau buat itu, kenapa dulu dibuat? Jangan dianggap hal ini main-main. Apalagi udah sempat terpublikasi. Jangan suka-suka lah. Ini melecehkan namanya,” protesnya lebih lanjut.

Atas tindakan Dinas Tarukim tersebut, Jonli menyatakan, pihaknya akan mengambil langkah-langkah sesuai ketentuan yang berlaku untuk menyelesaikan masalah ini.

“Selaku organisasi yang berbasis Simalungun, kami merasa tindakan Dinas Tarukim itu adalah pelecehan. Bukan hanya kepada Raja Sang Naualuh Damanik. Tetapi juga secara khusus kepada masyarakat Simalungun. Kami akan mengambil langkah menyikapi ini sesuai ketentuan yang ada. Ini kami anggap penistaan,” ujar Jonli.

Sebelumnya, pihak Dinas Tarukim menerangkan bahwa penggantian tulisan petuah Raja Sang Naualuh dalam bangunan mirip monumen di Taman Simpang Rambung Merah itu, adalah untuk penyederhanaan pekerjaan. Pihak Dinas Tarukim berpendapat, pencantuman petuah Raja Sang Naualuh Damanik dalam bangunan dimaksud terlalu ribet.

“Satunya terlalu ribet dan terlalu rame. Kita sederhanakan aja konsepnya sekalian mengenalkan aksara Simalungun,” ujar Eva, Kasi Bina Konstruksi Perumahan Dinas Tarukim Pematangsiantar. (Tim/Red)

Share