Hutan Jawa Rusak: Bukan Hanya Manusia Merugi, Satwa juga Menderita

Salingnews.com – Berdasarkan Data Balai Pemantapan Kawasan Hutan [BPKH] Wilayah XI tahun 2012, disebutkan bahwa luasan hutan Jawa-Madura sekitar 3,3 juta hektar. Rinciannya, 768 ribu hektar hutan konservasi, 735 ribu hutan lindung, serta 1.8 juta hektar hutan produksi.

Tahun 2000 luas tutupan hutan di Jawa diperkirakan sekitar 2,2 juta hektar. Namun, berdasarkan catatan Forest Watch Indonesia [FWI], tahun 2009, luas tutupannya hanya menyisakan 800 ribu hektar. Dalam rentang waktu sembilan tahun [2000‐2009] tutupan hutan di Jawa telah berkurang sekitar 60 persen.

FORD

Hutan sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup. Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Kondisi ini merupakan alarm. Hutan sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup, sebagai penyangga ekosistem, penyedia air, pengaturan iklim serta pelindung terhadap bencana alam.

Berkurangnya luas kawasan hutan merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Mengingat, kepadatan penduduk Indonesia sebesar 60 persen berada di Pulau Jawa. Posisi hutan kian terdesak ditengah laju pengembangan sejumlah mega proyek insfraktruktur sebagi dampak pengembangan Koridor Ekonomi Jawa dalam Kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia [MP3EI] 2011-2025.

Owa jawa ini dilepasliarkan di kawasan Cagar Alam Gunung Tilu Blok Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 2 Agustus 2017 lalu. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Bagaimana dengan kondisi Jawa Barat? Luas kawasan hutan di provinsi ini juga mengalami penurunan, sekitar 30 persen hutan primer dan 26 persen hutan sekunder. Hampir 18 ribu hektar lahan per tahun dijadikan lahan terbangun. “Dalam rentang waktu 1994-2005, terjadi pertumbuhan kawasanan permukiman sebesar 110 persen,” terang Dicky Syahroni, saat menjabat Kepala Bidang Fisik Badan Perencanaan Pembangunan Daerah [Bappeda] Provinsi Jawa Barat, beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari laman Dishut Jabar.

Jawa Barat yang telah menetapkan diri sebagai Green Province melalui perda tata ruang, telah menetapkan kawasan lindung sebesar 45 persen guna menjaga hutan yang ada. Dari target tersebut, saat ini baru tercapai sebesar 27,5 persen luasannya. “Untuk mendukung tujuan ini, Kabupaten Kuningan telah menetapkan diri sebagai Kabupaten Konservasi,” terangnya.

Merusak hutan sama saja menghancurkan kehidupan manusia dan membuat satwa liar menderita karena habitatnya rusak. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Dampak

Dikutip dari Tempo, berdasarkan penghitungan ulang Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai [DAS] dan Hutan Lindung pada 2016, luas total kawasan hutan lindung di Pulau Jawa sekitar 698.368,56 hektar.

Kawasan yang telah ditetapkan sebagai hutan lindung itu diragukan dalam wujud hutan belantara. Bahkan sebagian di antaranya cenderung diratakan oleh traktor yang kemudian diubah menjadi kawasan non-hutan seperti pertanian, perkebunan serta permukiman.

Di Jawa Barat, misalnya, pemanfaatan kawasan hutan lindung untuk permukiman meningkat seluas 168,81 hektar. Provinsi berpenduduk 45 juta jiwa ini memiliki kawasan hutan seluas 816.603 hektar. Dari luasan itu terdapat 132.180 hektar hutan konservasi, 291.306 hektar hutan lindung, serta 393.117 hektar hutan produksi.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] Jawa Barat menunjukkan, terjadi peningkatan bencana banjir dan longsor di Jawa Barat pada 2018 [130 kejadian] dibandingkan 2017 [113 kejadian]. Banjir dan longsor yang terjadi, selain akibat curah hujan yang tinggi juga disebabkan kerusakan daerah aliran sungai, lahan kritis, perubahan tata guna lahan, hingga hutan yang berkurang.

Hutan di Pulau Jawa yang rusak harus mendapat perhatian serius dan dihijaukan kembali. Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Habitat satwa rusak

Hutan yang rusak tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem, yang berdampak pada kehidupan manusia, tetapi juga kehidupan satwa. Ada elang jawa [Nisaetus bartelsi] yang identik dengan lambang Indonesia, yang harus diperhatikan habitatnya. Begitu juga dengan kukang jawa, owa jawa, dan lutung jawa yang nasibnya tidak boleh diabaikan.

“Semakin sulitnya kehidupan primata dapat diartikan semakin menyempitnya habitat mereka. Artinya kita mulai kehilangan hutan,” kata aktivis PROFAUNA, Herlina Agustin, baru-baru ini.

Dia mengatakan, primata sangat berharga untuk keanekaragaman hayati hutan. Mereka sangat penting untuk regenerasi hutan dan ekosistem yang sebetulnya dikontribusikan langsung pada kesejahteraan manusia itu sendiri.

Hilangnya keanekaragaman hayati, cenderung mengurangi produktivitas maupun ketahanan ekosistem hutan secara keseluruhan. Sederhananya, menurunnya populasi satwa sejalan dengan tingginya laju desforestasi.

“Bagaimanapun, kepunahan satwa sama dengan kehilangan hutan. Tentu sulit untuk memulihkan hutan tanpa menghidupkan habitat satwanya. Komponen satwa itu sangat penting, agar ekosistem tetap hidup,” tutur Herlina.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] telah menargetkan peningkatan 10 persen terhadap 25 spesies satwa terancam punah dalam kurun waktu 2015-2019. Sejumlah satwa prioritas itu menjadi tolok ukur keberhasilan pengelolaan ekosistem dengan menakar kondisi biologis dan ketersediaan habitat [SK Dirjen PHKA No. 200/IV/KKH/2015]. Peningkatan jumlah menjadi barometer keberhasilan program konservasi.

Akankah tercapai dengan kondisi hutan seperti ini?

(Redaksi)

Sumber :mongabay.co.id

Share

Baca Juga