Kampus Rasanya Memang Seperti Pabrik

Salingnews.com – Artikel ini dilansir dari media online kumparan.com yang di kutip dari tulisan Mohammad Nur Fiqri dan Rezki Ameliyah Arief yang menganggap bahwa ” Kampus Rasanya Memang Seperti Pabrik”. Seperti apa Kamus itu menurut mereka? berikut Artikelnya;

Pernah saya lihat sebuah poster yang berisikan informasi pendaftaran mahasiswa yang dipampang di gerbang. Gambarnya menyerupai gambar proses evolusi manusia.

Di sana, manusia digambarkan berevolusi dari berseragam SMA, berpakaian bebas ala mahasiswa, hingga kemudian memakai pakaian formal.

kampus rasa pabrik

Ilustrasi Wisuda”Lulus, kemudian jadi apa?” (Foto: Pexels)

Ditambah embel-embel, yang intinya adalah “mudah cari kerja,” jelaslah bahwa kampus memang tak lebih dari sekadar penyuplai buruh.

Kebetulan waktu itu saya sudah lulus. Jadi, meskipun dalam hati merasa kesal, saya tidak merasa perlu untuk misuh-misuh. Masa mahasiswa sudah lewat.

Namun tak butuh waktu lama, saya dihadapkan lagi dengan cara pikir serupa poster di kampus saya tadi. Tiba-tiba, seorang adik kelas menyapa, dan bertanya soal rencana saya melanjutkan studi pascasarjana. Ia bertanya jurusan yang mungkin akan saya pilih.

Saya menjawab, “Psikologi Sosial”. Ia membalas dengan pertanyaan berikutnya. “Memangnya Psikologi Sosial nyari kerjanya gampang ya, Kak?” Tak cukup dengan itu, ia juga menyebutkan jurusan jurusan lain yang ia anggap lulusannya akan lebih mudah terserap di dunia kerja.

Lagi-lagi, saya menahan diri, dan mencoba santai. Saya hanya menjawab, “Kuliah itu buat nyari ilmu, bukan buat nyari kerjaan.”

Mungkin saya sok-sokan ideal saja dengan berkata begitu. Toh pada akhirnya saya juga tetap bergantung kepada gelar sarjana untuk mencari kerja.

Tapi di luar kecurigaan saya kepada diri sendiri itu, saya masih meyakini betul bahwa kuliah, apalagi pascasarjana, memang untuk menjawab rasa ingin tahu seseorang. Masa iya ilmu seorang terdidik hanya didedikasikan kepada pemilik modal?

Saya cukup bersyukur, baru-baru ini ada dua mahasiswa sadar akan tumpulnya peran kampus dalam mendidik pemikir. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menyampaikan protes langsung di muka kampusnya sendiri. Namanya Mohammad Nur Fiqri dan Rezki Ameliyah Arief.

Intinya, mereka resah dengan kampus mereka; mereka resah dengan cara kerja dunia. Dengan pilihan kata dan visual yang bernas, mereka buat poster bunyinya: “Kampus Rasa Pabrik”.

Langkah itu kemudian disambut dengan skorsing dua semester (satu tahun) oleh pihak universitas. Walaupun skorsing tersebut akhirnya dicabut, perlakuan kampus yang antikritik itu seakan membuktikan apa yang Mohammad Nur Fiqri dan Rezki Ameliyah Arief tulis: kampus rasanya memang seperti pabrik. (Red)

Sumber :kumparan.com

Share

Baca Juga