Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang dari Tahun ke Tahun, Apa Penyebabnya? Alam Ataukah Manusia? 

Salingnews.com – Apakah kita akan terus berpangku tangan setiap kali musim kemarau datang? Kebakaran dan kebakaran dan kebakaran terus melanda sejumlah hutan dan lahan di Indonesia.

2204627076

Suka dan duka para Prajurit TNI yang ‘berperang’ melawan kebakaran hutan.    (kompas.com / Idon Tanjung)

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, musim kemarau tahun ini pada umumnya mulai berlangsung pada April 2019. Sedangkan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2019. Dari 342 zona musim di Indonesia, 68 persen akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2019.

Kemarau yang terus bergulir menuju puncaknya menyebabkan kondisi tanah semakin mengering. Ditambah udara yang lebih panas memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Lahan gambut di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Papua adalah daerah yang selalu rawan kebakaran dari kemarau ke kemarau selanjutnya.

Lahan gambut sangat rentan terbakar sebab material tanahnya terdiri dari bahan-bahan organik, seperti daun, ranting dan batang pohon, hingga hewan-hewan yang mati serta terdekomposisi.

Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kebakaran hutan dan lahan hingga Juli 2019 luasnya lebih dari 27 ribu hektare, dan kini masih terus meluas di Kabu

Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/07/19). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kebakaran hutan dan lahan hingga Juli 2019 luasnya lebih dari 27 ribu hektare, dan kini masih terus meluas di Kabu

Tak hanya itu, sifat pembakaran gambut adalah pembakaran dalam. Artinya, titik api muncul dari lapisan bawah tumpukan material organik, sehingga sangat sulit dipadamkan.

Foto udara kebakaran hutan di samping perkebunan kelapa sawit di kabupaten Kumpeh Ulu di Muaro Jambi, provinsi Jambi.

Foto udara kebakaran hutan di samping perkebunan kelapa sawit di kabupaten Kumpeh Ulu di Muaro Jambi, provinsi Jambi.

Akhir-akhir ini kita terus mendapatkan kabar kebakaran hutan dan lahan dari Aceh, Riau, Kendari, Palangkaraya, kawasan Gunung Arjuno dan terbaru kawasan puncak Gunung Ciremai.

Kejadian kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia mencapai 1.130 kasus selama satu dekade terakhir. Artinya, lebih dari 100 kasus kebakaran tiap tahunnya. Kerugian yang ditimbulkan sangat banyak.

Kondisi ruas Jalan Banda Aceh - Meulaboh di kawasan Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, yang diselimuti kabut asap akibat kebaran lahan dan hutan gambut, Selasa (30/07/2019). Sebanyak lima siswa MTsN 1 Aceh Barat mengalami pingsan dan sesak napas akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan gambut.

Kondisi ruas Jalan Banda Aceh – Meulaboh di kawasan Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, yang diselimuti kabut asap akibat kebaran lahan dan hutan gambut, Selasa (30/07/19). Sebanyak lima siswa MTsN 1 Aceh Barat mengalami pingsan dan sesak napas akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan gambut.

Kasus kebakaran paling banyak terjadi pada tahun 2018, mencapai 527 kejadian. Seluruh kasus terkonsentrasi di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Kebakaran hutan dan lahan turut memicu permasalahan nasional hingga internasional, seperti kabut asap.

Ribuan kasus kebakaran tersebut telah merusak lebih dari 44 juta hektar kawasan hutan di Indonesia. Sementara luas kawasan perkebunan dan pertanian yang terdampak mencapai lebih dari 70.000 hektar.

Mongabay mengatakan, ada dua faktor pemicu kebakaran, alam dan manusia. Tapi, faktor manusialah yang lebih kuat menjadi penyebab kebakaran.

Pakar gambut dari UGM, Satyawan Pudyatmoko mengatakan kebakaran lahan gambut sering kali disebabkan oleh kesalah fundamental oknum tertentu yang mencoba membuka lahan baru dengan cara membakar.

Tanpa memerhatikan ekosistem hutan, oknum pembakar lahan gambut hanya berpikir tentang nilai ekonomis optimalisasi lahan.

Sejumlah personel TNI Koramil 09 Langgam bersama pemadam kebakaran PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/7/2019). Upaya Satgas Karhutla Riau untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan

Sejumlah personel TNI Koramil 09 Langgam bersama pemadam kebakaran PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/7/19). Upaya Satgas Karhutla Riau untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

Faktor yang disebabkan manusia bisa karena faktor kesengajaan atau bisa juga kelalaian. Musibah ini juga kita ketahui bukan sepenuhnya kesalahan manusia.

Sambil terus menyelidiki penyebab utama kebakaran hutan yang terus terulang. Pengetahuan mitigasi juga sangat perlu disosialisasikan kepada daerah korban terdampak.

Selain itu, yang paling utama adalah bagaimana cara kita menumbuhkan “rasa kepemilikan” atas hutan dan lahan. Artinya, dengan rasa kepemilikan yang tinggi, kebakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh faktor manusia bisa berkurang dan menghilang.

Rasa kesadaran akan kepedulian ekosistem lingkungan bisa menjadi tameng utama berkurangnya kelalaian dan kesengajaan kebakaran hutan.

(Sumber: Yoesep Budianto/LITBANG KOMPAS)

Salah seorang siswa Sekolah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Aceh Barat yang berada di Desa Blang Bale, Kecamatan Samatiga, dibawa dengan ambulans untuk mendapat penanganan medis, Selasa (30/7/2019). Sebanyak lima siswa MTsN 1 Aceh Barat mengalami pingsan dan sesak napas akibat kabut asap kebakaran hutan

Salah seorang siswa Sekolah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Aceh Barat yang berada di Desa Blang Bale, Kecamatan Samatiga, dibawa dengan ambulans untuk mendapat penanganan medis, Selasa (30/7/19). Sebanyak lima siswa MTsN 1 Aceh Barat mengalami pingsan dan sesak napas akibat kabut asap kebakaran hutan 

 (Redaksi)

Sumber : Nationalgeographic.co.id

Share

Baca Juga