Kemenkes RI Terbitkan SE Terkait Besaran Biaya Rapid Test

IMG-20200708-WA0011Ket Foto : Surat Edaran dari Kemenkes RI terkait Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi

Salingnews.com – Pematangsiantar
Beredarnya patokan harga terkait biaya Rapid Test pada laman Facebook milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar, kini menjadi bahan pertimbangan atas Surat Edaran (SE) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam Surat Edaran yang bernomor HK.02.02/I/2875/2020 itu disebutkan bahwa biaya Rapid Test paling mahal ialah sebesar Rp150 ribu.

Sebelumnya, pada laman Facebook milik RSUD dr Djasamen Saragih menerbitkan sebuah postingan berupa promosi biaya Rapid Test yang juga diketahui RS tersebut menjadi salah satu rujukan terhadap pasien terpapar Covid-19.

Surat Edaran yang diteken oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Bambang Wibowo pada Senin, 6 Juli 2020 itu, menyebutkan batasan biaya Rapid Test ditentukan oleh pemerintah karena harga yang beredar di tengah masyarakat bervariasi.

“Harga yang bervariasi untuk melakukan Rapid Test menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dalam pemeriksaan Rapid Test Antibodi agar masyarakat tidak merasa dimanfaatkan untuk mencari keuntungan,” demikian yang tertuang dalam isi surat tersebut.

Surat edaran tersebut ditujukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat dan pelayanan Rapid Test Antibodi serta tarif yang ada dapat memberikan jaminan bagi masyarakat.

Mengetahui hal itu, media mencoba menanyakan kepada pihak Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar melalui Dr Ronald Saragih selaku Kepala Dinas pada Rabu (8/7/2020), yang menyebutkan kalau surat belum ada masuk secara resmi.

“Surat dari Kementerian Kesehatan belum ada masuk secara resmi kepada kita. Tetapi kalau secara lisan sudah kita dengar,” imbuhnya.

Disinggung soal biaya Rapid Test yang disebutkan dalam Surat Edaran milik Kemenkes dengan besaran biaya Rp150 ribu, Ronald mengungkapkan adanya kebingungan dalam penetapan biaya Rapid Test sebesar Rp150 ribu dikarenakan biaya alat Rapid Test hampir mencapai Rp200 ribu.

“Bagai mana kita menerapkan nya. Untuk biaya alat Rapid test saja hampir Rp200 ribu. Tapi kita tunggu lah surat resmi dari Kemenkes apakah dalam surat tersebut Kemenkes akan membagi alatnya kepada kita,” ujarnya.

dr Ronald Saragih yang juga Plt Direktur RSUD Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar ini juga mengatakan kalau di RSUD belum ada mengeluarkan rilis harga Rapid Test secara mandiri, melainkan pada situs/laman tersebut masih sekedar wacana.

“Kita masih melakukan Rapid Test kepada pasien dan untuk Rapid Test secara mandiri belum ada. Yang ada di link Facebook kita itu masih wacana saja, belum ada kita mengeluarkan biaya Rapid test,” tutupnya.

(DD/Tim)

Share