Lecehkan Etnis Simalungun, Hefriansyah Gagal Sebagai Walikota Pematangsiantar

Salingnews.com – Pematangsiantar. Dibawah kepemimpinan Hefriansyah selaku Walikota Pematangsiantar  kerap sekali menuai kritikan keras dari kalangan masyarakat, mahasiswa, dan elemen-elemen organisasi di kota Pematangsiantar. Hal itu diungkapkan oleh Aktivis SaLing melalui Sekretarisnya Dedy Wibowo Damanik. Rabu (11/04/18).

surat terbuka

Surat terbuka dari Himapsi atas tindakan Hefriansyah yang dianggap melecehkan Etnis Simalungun.

Lanjut Dedy menambahkan bahwa Kejadian teraktual hingga saat ini masih sering terngiang ditelinga yaitu murka nya masyarakat suku Simalungun atas penerbitan browsur oleh Pemko Siantar melalui Dinas Pariwisata dan Budaya. Dengan unsur disengaja ataupun tidak disengaja belum diketahui kenapa browsur dalam rangka memperingati hari jadi kota Pematangsiantar ke-147 menghilangkan adat budaya simalungun.

Baca Juga :

Didalam browsur yang terbit bahwa pakaian adat simalungun tidak ada didalam, bahkan suku lain yang lebih ditonjolkan. Dengan tidak adanya pakaian adat simalungun didalam browsur tersebut telah  dikatakan sebagai bentuk pelecehan terhadap suku simalungun.

Ini bukan kali pertama Pemerintah kota Pematangsiantar melakukan pelecehan terhadap suku simalungun. Pada saat pembukaan acara MTQ di kecamatan Siantar Simarimbun tertanggal 22 Maret 2018 di masjid Al Hilal Marihat, Hefriansyah, Walikota Pematangsiantar disambut dengan tarian dari suku Melayu.

surat KNPSI 2

Surat KNPSI desak DPRD agar mencopot Hefriansyah sebagai Walikota Pematangsiantar.

 Sangat jelas ini adalah bentuk pelecehan terhadap suku simalungun. Hefriansyah tidak paham sejarah yang dimana kita ketahui secara seksama bahwa suku simalungun di kota Pematangsiantar sudah ada sejak dahulu sebelum Negara Indonesia terbentuk. Seharusnya Hefriansyah belajar sejarah dulu sebelum memimpin di Kota “Sapangambei Manoktok Hitei” ini.

Hal serupa juga terjadi pada saat perayaan Natal Oikumene Desember 2017 di lapangan Hj. Adam Malik yang di selenggarakan langsung oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar. Dalam penyambutan pejabat Pemko siantar tidak disambut oleh tortor simalungun, justru tortor batak toba. Semakin jelas bahwa ada upaya dari Pemerintah kota Pematangsiantar dibawah kepemimpinan Hefriansyah ingin menghapuskan suku simalungun dari tanah dan rumahnya.

Dengan beberapa permasalahan ini, maka layak dikatakan sebagai bentuk culture-terorist. Hal yang wajar jika masyarakat simalungun marah dan geram atas kejadian ini. Ini tidak bisa ditolerin lagi, Hefriansyah harus legowo mundur dari jabatannya sebagai Walikota Pematangsiantar.

“ Intinya kita mendukung dan mendesak  agar hefriansyah  di copot dari jabatannya sebagai Walikota Pematangsiantar, karena dianggap telah melecehkan suku simalungun dan tidak menghargai kearifan lokal di Kota Sapangambei Manoktok Hitei  dan Hefriansyah gagal sebagai Walikota”. Tutur Dedy Damanik. (Ded/AS)

Share

Baca Juga