Lembah Hitam Sungai Bah Kuo “Manisnya Arung Jeram di Siantar – Simalungun”

Salingnews.com – Pematangsiantar. Tidak memerlukan waktu lama dari pusat kota Siantar untuk menemukan titik sungai ini. Bah Kuo adalah sungai legendaris. Dulu kami menjelajah area ini saat berlatih karate. Demikian juga anak-anak Pramuka menjadikan sungai ini sebagai sesi berlatih.

IMG-20190519-WA0003Artikel ini ditulis Oleh: Gusmiyadi (Goben) Aktivis Indonesia Bergerak

Bebebrapa kilo meter menuju sungai, pohon salak yang menjadi sumber kekhasan wilayah sini masih banyak terlihat diantara tanaman karet yang tidak lagi terawat. Konon harganya anjlok, tampaknya itu yang membuat perkebunan warga itu sudah tampak seperti hutan.

Sungai Bah Kuo hari itu berair coklat. Biasanya kehijauan. Maklum semalamnya hujan merata dikawasan Siantar – Simalungun. Berkahnya, hari ini pasti akan banyak jeram bagus.

Perahu sudah siap. Anak-anak muda Siantar Rafting yang memandu kami sudah meletakannya dibibir sungai. Setelah melakukan semacam briefing singkat, kami mulai menaiki perahu. Ada tips hebat  yg perlu diperhatikan sebelum mengarung; basahi badan dan bajumu agar tidak terlalu panas sepanjang perjalanan. Tips ini ampuh, air sungai yang berasal dari gunung itu menghadirkan kesegaran luar biasa.

Fase awal perjalanan, 50 meter saja dari titik awal, arus deras mulai terasa. Kami mengayuh. Atap langit masih terang terbuka. Teriakan membahana – kami sangat bersemangat. Jeram-jeram kecil menurun membawa kami menuju hilir sungai 4 jam kedepan.

Ada gua besar disisi kanan. Bang Ubul (pimpinan rombongan Siantar rafting) bilang ada mata air disana. Kami menepi. Sedari awal kami membutuhkan tambahan air minum untuk menghabiskan sisa 3 jam perjalanan kebawah sana.

Menunggu beberapa orang memasuki gua, kami melakukan “peluncuran”. Lakukan perjalanan Sedikit kebagian atas sungai, kemudian menghanyutkan badan menuju perahu menggunakan pelampung. Kami mencoba mempraktekan arahan pimpinan rombongan saat briefing tadi; jika terlempar, tetap tenang. Hadapkan badan keatas, kaki diangkat seperti orang tidur terlentang sambil melihat aliran air untuk mengantisipasi kayu dan batu. Aduh asyiknya.. air dingin dan suasana yg tenang dibawah rimbunan pepohonan memanjakan kami.

Rombongan pencari mata air akhirnya kembali. Mereka gagal menemukannya. Mata air yang dimaksud telah rusak tertimbun material pebukitan yang longsor. Kami lanjutkan perjalanan.

Pada sesi ini kami mulai mengarungi dinding tebing yang relatif sempit. Warnanya hijau kehitaman, dipadukan tinggi pohon menjulang langit. Arus deras kian menantang. Segala keseruan kami nikmati dititik ini.

Kami masih mengingat ada beberapa air terjun disisi kiri dan kanan. Barangkali ada aliran sungai yang ujungnya tumpah disini. Beberpa mata air menyembur dari dinding-dinding batu. Ya Allah… hebat  sekali.

Kami berusaha menepi untuk mengisi perbekalan air, tapi selalu gagal. Dinding batu tidak cukup baik untuk kami menggapainya untuk menghentikan perahu sejenak, agar sekedar bertahan menampung semburan mata air yang jernih itu. Jeram-jeram didepan tampak mengangah, menantang untuk ditaklukan. Kami kembali terseret arus….

Dijeram selanjutnya aku terpental. Jeram yang tidak pernah berkesudahan, dayungan anggota tim yang tidak stabil membuat perahu kami memutar. Bibir perahu bagian belakang menghantam tebing. Pantulannya memaksaku terhempas ke air. Disaat yang sama kami dapat melihat jeram sudah didepan mata. Aku harus segera naik kebagian atas perahu. Dengan cekatan skipper melakukan penyelamatan, membetot pelampungku sekuat tenaga hingga aku kembali keposisi awalku di perahu. Kami mulai lagi….

Diantara rerimbunan pohon dan tebing hitam kami kembali menemukan banyak sekali mata air menyembur dari sela tebing batu. Ada cela sedikit diantaranya untuk kami dapat menahan perahu. Kami mengisi perbekalan air. Melepas dahaga sebelum kembali menyelesaikan misi mengarungi sungai legendaris ini. Kami mengayuh dayung kembali.

Jeram-jeram ini seperti tidak pernah habis. Langit hanya terlihat sedikit saja ditengah rimbunan pohon-pohon. Jarak antar dinding tebing kanan dan kiri rasanya tidak lebih dari empat meter saja. Tidak lebih dari lebar dua perahu. Tampak sempit. Dinding batu bertekstur alami. Dibeberapa bagian mata air keluar jernih. Ini bukan green canyon, tetapi black canyon. Indah sekali.

Pada beberapa bagian tebing yang kami lintasi, kami menemukan untaian tali dari atas daratan. Perkiraanku, inilah yang sering disebut-sebut para pencari ikan itu. Mereka menuruni tebing, berbekal seutas tali untuk memancing atau menjala ikan. Diarus yang deras seperti ini, jenis ikan yang diharap adalah jurung. Ikan adat bagi masyarakat bersuku batak.

Kami terus mendayung perahu karet ini. Sejak berhenti sejenak untuk singgah mengambil air tadi, suasana sedikit berbeda. Gerimis hujan menyeruak dari balik dedaunan. Kami bersepakat untuk tidak menggunakan waktu untuk sekedar beristirahat kembali. Perjalanan harus kami tuntaskan segera.

Perasaan menjadi campur aduk. Tetesan air hujan yang jatuh dari ketinggian juga terasa sangat indah. Tentu saja ini harus dinikmati sambil tetap waspada. Kami harus memperlambat dayung; kami melihat perahu dibagian depan terbalik pada salah satu jeram. Beberapa orang dapat bertahan, tiga lainnya hanyut mengikuti arus. Pada ujung penglihatan saya melihat mereka meluncur mengikuti arus dengan tenang. Semoga ada sesuatu yang dapat dimanfaatkan utk bertahan dibagian dinding sungai, harapku.

Kami tidak ingin menabrak perahu didepan. Bersusah payah kami berusaha mendayung terbalik sembari menggapai dinding sungai utk menahan laju perahu. Evakuasi dilakukan oleh Ubul, ia menjadi skipper perahu terakhir yang mengambil inisiatif penyelamatan. Dua dayung hilang, menebus situasi yang menguji adrenalin disesi ini. Alhamdulillah mereka yang terpental dari perahu berhasil menggapai pinggiran sungai untuk menunggu perahu tiba.

Ada 45 menit waktu tersisa menuju lokasi pemberhentian. Dinding batu mulai habis tergantikan sisi-sisi pekebunan karet milik pemerintah. Meskipun masih terdapat jeram, tetapi aliran sungai sudah mulai dangkal. Terlihat beberapa orang sedang memancing.

Hampir diujung perjalanan disisi kanan sungai terlihat aktivitas penambangan. Situasi ini bagi saya sangat tidak diharapkan. Ada beberapa alat berat teronggok disana. Ialah sesungguhnya mesin perusak yang mestinya harus segera dihentikan.

Perjalanan ini berakhir pada sebuah aliran sungai yang tenang dan cukup lebar. Kemi menceburkan diri. Menggunakan pelampung untuk tidur terlentang menghanyutkan diri. Menikmati kebahagian luar biasa dari proses perjalanan yang luar biasa hebat hari ini.

Tidak pernah disangka. Saya pernah melakukan kegiatan arung jeram dibanyak daerah dipulau jawa. Tapi ini sama sekali tidak kalah. Potensi air yang sejuk, pemandangan indah dan dinding-dinding batu yang bertekstur misterius sebagai manivestasi pahatan alam.

Terima kasih kawan-kawan Siantar Rafting.
Kalian keren !!!!

(Redaksi)

“Tulisan ini adalah pengalaman Penulis, ketika menjelajahi Arung Jeram Sungai Bah Kuo”

Share

Baca Juga