Organisasi Gereja Terbesar di Sulawesi Utara Sepakat Lestarikan Satwa Liar Dilindungi

Salingnews.com – Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), organisasi gereja terbesar di Sulawesi Utara, menandatangani kesepakatan dengan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia. Isinya, komitmen untuk melestarikan satwa liar dilindungi, hingga upaya untuk mengurangi penggunaan air mineral kemasan plastik.

Bagi GMIM, komitmen itu merupakan salah satu upaya menjabarkan tugas kerohanian gereja dalam memelihara bumi. Tugas pemeliharaan tersebut tidak hanya berhenti pada menjaga keberlanjutan lingkungan, tapi juga memperbaiki kerusakan akibat ulah manusia.

hewan2-Tak-hanya-anjing-dan-kucing-biawak-dan-ular-juga-dijual-di-pasar-ekstrem-tersebut.-Foto-dok-DMFI-768x576

Tampak beragam satwa, dari kucing, monyet sampai biawak dijual di pasar ekstrem Tomohon, Sulut. Foto: dokumen DMFI/ Mongabay Indonesia

Kerjasama dengan GMIM merupakan bagian dalam program Green Gospel: Kekristenan dan Konservasi, yang digagas Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia. Program ini beranjak dari pemahaman bahwa masyarakat gereja adalah aktor-aktor yang dapat menjaga keberlanjutan lingkungan.

Melalui program Green Gospel, Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia ingin membagikan pengetahuan lewat pendekatan eco-teologi. Mereka ingin meluruskan kekeliruan persepsi bahwa menguasai alam semesta sama dengan hak untuk mengeksploitasi.

Organisasi Gereja terbesar di Sulawesi Utara, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menyatakan dukungan pada pelestarian satwa liar dilindungi. Komitmen itu dinyatakan dalam penandatanganan kesepakatan dengan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia, Kamis (13/6/2019).

Melalui kesepakatan itu, GMIM akan membagikan penyadartahuan tentang satwa liar dilindungi lewat khotbah-khotbah terstruktur, membuat silabus untuk Sekolah Minggu, serta berupaya mengurangi konsumsi air mineral kemasan plastik.

Sekretaris Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Pdt Evert Tangel mengatakan, secara organisasi GMIM telah membuat keputusan untuk memberikan perhatian pada penyelamatan lingkungan. Perhatian itu dilakukan dalam semua tingkat pelayanan, dari tingkat wilayah hingga sinode.

“Tindaklanjut dari kesepakatan, akan ada beberapa kegiatan dan himbauan-himbauan untuk memperhatikan lingkungan, khususnya untuk tidak mengkonsumsi satwa liar dilindungi. Pada tingkat anak-anak, dilakukan pembuatan silabus, kurikulum pendidikan pelayanan dengan memuat pengajaran-pengejaran tentang lingkungan hidup.”

“Di samping itu, kami melakukan upaya-upaya untuk mengurangi pemanfaatan air mineral kemasan plastik, dan mengajak jemaat untuk menggunakan tumbler dalam tiap kegiatan atau acara-acara gereja,” terang Pdt Evert ketika dihubungi Mongabay-Indonesia, Selasa (2/7/2019).

Menurutnya, poin-poin dalam kesepakatan itu merupakan salah satu upaya menjabarkan tugas kerohanian gereja dalam memelihara bumi. Mengutip kitab Kejadian 2:15, Pdt Evert mengatakan, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Kini, tugas pemeliharaan tersebut tidak hanya berhenti pada menjaga keberlanjutan lingkungan, tapi juga memperbaiki kerusakan akibat ulah manusia. Sehingga, komitmen terhadap pelestarian satwa liar dilindungi dan mengurangi penggunaan air mineral kemasan plastik diharap berdampak perubahan sikap dan perilaku dari jemaat pada lingkungan.

“Terutama meletakkan dasar iman terhadap tanggungjawab lingkungan yang Tuhan telah ciptakan untuk kita pelihara,” masih dikatakan Pdt Evert. “Perintah mengusahakan bumi itu selalu berhubungan dengan pemeliharaan. Bukannya menghancurkan. Karena itu, kami memperingatkan peranan manusia untuk meminamilisir dampaknya. Yang rusak diperbaiki.”

Penandatangan kesepakatan tersebut dilakukan di Kantor Sinode GMIM, Tomohon. Turut hadir dalam kesempatan itu Ketua Sinode GMIM, Hein Arina, Sekretaris Sinode GMIM, Evert Tangel, Ketua Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia, Yunita Siwi dan Duta Yaki Indonesia, Khouni Lomban Rawung.

Yunita Siwi (Ketua Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia), Khouni Rawung (Duta Yaki Indonesia) dan Hein Arina (Ketua Badan Pekerja Sinode GMIM) menandatangani kesepakatan bersama untuk konservasi satwa liar dilindungi. Foto : Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia/Mongabay Indonesia

Green Gospel: Kekrisetenan dan Konservasi

Pelibatan organisasi gereja dalam agenda konservasi merupakan bagian dalam program Green Gospel: Kekristenan dan Konservasi. Program ini beranjak dari pemahaman bahwa masyarakat gereja adalah aktor-aktor yang dapat menjaga keberlanjutan lingkungan.

Yunita Siwi, Ketua Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia menceritakan, program Green Gospel bermula pada tahun 2014 di Tompaso, kabupaten Minahasa. Saat itu pihaknya mengumpulkan pendeta-pendeta dari 10 gereja untuk meminta masukkan agar penyadartahuan tentang konservasi bisa diterima masyarakat gereja. Pendeta-pendeta itu kemudian membagikan sejumlah ayat dan strategi yang bisa digunakan dalam mendukung agenda konservasi.

“Dari situ kami membuat silabus untuk diterapkan di Sekolah Minggu. Isinya tentang perlindungan lingkungan hidup, seperti masalah sampah, penyelamatan satwa liar dan lain-lain. Pendidikan konservasi, secara tidak langsung, telah dilakukan lewat pendekatan alkitabiah,” terang Yunita.

Sejauh ini, melalui program Green Gospel, Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia sempat bekerjasama dengan sekolah-sekolah teologi di Sulawesi Utara, menghadiri pertemuan-pertemuan akbar gereja hingga menggelar dialog bertema kekristenan dan konservasi.

Upaya itu penting dilakukan karena, mereka menilai, selama ini banyak jemaat memandang bahwa menguasai alam semesta sama arti dengan hak untuk mengeksploitasi. Sehingga, lewat program Green Gospel, Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia ingin membagikan pengetahuan pada masyarakat melalui pendekatan kekristenan atau eco-teologi.

“Allah menyuruh Adam dan Hawa untuk memelihara taman eden. Ketika peristiwa air bah, Tuhan menyuruh Nabi Nuh untuk membawa beberapa binatang. Tujuannya agar manusia bisa hidup bersama-sama dengan binatang. Jadi, sejak mulanya Tuhan sudah menugaskan manusia untuk menjaga bumi, termasuk satwa liar,” Yunita mencontohkan.

Potongan ular di Pasar Tomohon. Foto: Themmy Doaly

Meski belum mengukur capaian program Green Gospel, namun pihaknya percaya kolaborasi antara lembaga gereja dan pegiat konservasi telah membuahkan kemajuan positif. Di media sosial, Yunita memandang, banyak orang mulai berbagi pengetahuan tentang konservasi dan penyelamatan satwa liar dilindungi.

“Kami belum mengukur secara pasti. Tapi, kalau dilihat dari fenomena di media sosial sudah sangat meningkat. Fenomena perubahan iklim juga berangsur-angsur ikut memperbaiki pemahaman itu. Sebagian pihak (jemaat gereja) sudah mulai terbuka,” tambahnya.

Lewat penandatanganan kesepakatan dengan GMIM, Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia terlibat dalam kerjasama pembuatan silabus untuk Sekolah Minggu. Silabus itu berisi 9 materi, yang terbagi atas 7 pelajaran utama dan 2 pelajaran tambahan. “Materinya tentang hutan dan satwa, laut dan sungai, dan lain-lain. Silabus juga berisi tujuan pembelajaran, ayat-ayat yang mendukung serta praktik pengajaran,” kata Yunita.

“Kami juga akan membuat pelatihan mengenai silabus ini. Teknisnya saling melengkapi. Karena, pada satu sisi, mereka (GMIM) lebih paham tentang ayat alkitab dan kami pada aspek konservasi dan lingkungan hidup.”

Kedepannya, Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia akan fokus menjalankan kesepakatan dengan GMIM. Dalam waktu dekat, misalnya, mereka akan mengirimkan surat himbauan dalam rangka pengucapan syukur (tradisi perayaan panen masyarakat suku Minahasa), khususnya menyangkut tidak mengkonsumsi satwa liar dilindungi.

“Semoga kerjasama dengan GMIM dapat menurunkan konsumsi satwa liar dilindungi. Juga membangun kesadaran di tingkat jemaat, bahwa satwa liar ini punya peran masing-masing, dan manusia tidak dapat menggantikan mereka. Kita juga bertanggungjawab memelihara bukan menghabiskannya,” pungkas Yunita Siwi. (Red)

Sumber : mongabay.co.id

Share

Baca Juga