Pembangunan Tugu Sangnaualuh Soal “Niat”

IMG-20200616-WA0009Ket Foto : Lapangan H Adam Malik Lokasi Pembangunan Tugu Sangnaualuh “Mangkrak” dan Terlihat Beberapa Material Bangunan Sudah Hilang

Salingnews.com – Pematangsiantar
Tokoh pemuda Simalungun Rado Damanik yang saat ini sebagai Ketua Umum DPP HIMAPSI menyebutkan Pemerintah Kota Pematangsiantar dari awal dinilai sudah inkonsisten menyoal pembangunan Tugu Raja Siantar yakni Sangnaualuh Damanik.

Perjalanan proses perencanaan pembangunan Tugu tersebut, Rado meminta agar kembali ke konsep awal perencanaan yang titik lokasinya berada di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) atau depan Ramayana.

Bahwa sebelumnya, dasar penempatan lokasi perencanaan pembangunan Tugu Sangnaualuh sudah dimuat dalam seminar dengan kajian-kajian ilmiah oleh lembaga pendidikan tinggi yang seolah tidak memiliki nilai kompetensi dan terkesan sekedar formalitas.

Rado Damanik yang mengikuti proses perencanaan pembangunan Tugu Raja terakhir di Siantar yang ke XIV itu melihat pihak Pemko berhasil memancing amarah etnis Simalungun. Padahal menurutnya, Tugu Raja Sangnaualuh bukan milik keturunan ataupun etnis Simalungun, melainkan milik semua warga masyarakat Siantar.

Terbukanya peluang untuk menikmati udara segar di Kota Pematangsiantar, tidak terlepas dari buah pemikiran Raja Siantar yang begitu toleran terhadap pendatang dulunya. Sehingga sampai saat ini, Kota Pematangsiantar masih menyandang salah satu Kota berpredikat dengan toleransi tinggi.

Pembangunan Tugu Sangnaualuh kembali dibahas saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas PUPR yang digelar oleh Komisi III DPRD Kota Pematangsiantar, Senin (13/07/2020).

Babak baru yang kian lepas dari cengkraman Pemko dianggap belum menjadi prioritas disaat Negeri sedang mengalami bencana Nasional yaitu wabah pandemi Covid-19.

Namun, Daud Simanjuntak salah satu anggota Komisi III meminta agar pembangunan Tugu tersebut tetap dilaksanakan.

“Soal lokasi silahkanlah dibangun yang direncanakan di awal. Kalaupun memang Pemko ingin memindahkan silahkan juga terbuka kepada masyarakat maupun ahli waris,” ujarnya.

Kendala lokasi menjadi alibi Renward Simanjuntak selaku Kepala Dinas PUPR yang membuat Pemko kebingungan untuk menentukan titik lokasi pembangunan Tugu Sangnaualuh.

“Kalau dana sudah ada, hanya saja keluarga ahli waris yang tidak setuju. Dan kalau menurut saya, kalau dibangun di depan Ramayana yang di Jalan Sangnaualuh itukan dengan tinggi 22 meter, jadi kurang paslah,” ujarnya sembari mengatakan kalau dia siap membangun Tugu Sangnaualuh.

Anggaran pembangunan Tugu Sangnaualuh ber-efek terhadap pandemi Covid-19 sehingga terjadi refocussing kegiatan dan realokasi anggaran. Hal itu disebutkan Renward Simanjuntak bahwa di Dinas yang sedang ditangani olehnya belum memprioritaskan pembangunan Tugu tersebut.

“Itu bukan saya menentukan apa saja yang di refocussing. Saya siap untuk membangun Tugu Sangnaualuh tersebut,” ungkapnya.

Disisi lain, Rado Damanik menilai bahwa pembangunan Tugu Sangnaualuh bukan lagi bermuara pada masalah refocussing, akan tetapi niat dari Pemko sendiri.

“Yang menjadi masalah sebenarnya ialah niat dari Pemko itu sendiri ada enggak dalam hal penempatan. Kan sudah ada hasil seminar yang menentukan lokasinya yaitu di depan Ramayana?
Soal bagaimana tinggi dari Tugu itu, kan bisa disesuaikan dengan lokasi. Jangan dipaksakan yang lokasinya tidak mendukung,” ungkapnya.

Diketahui bahwa hasil seminar tahun 2011 lalu dengan kajian-kajian ilmiah oleh lembaga pendidikan tinggi itu menetapkan lokasi awal berada di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) atau depan gedung Ramayana.

(DD/Tim)

Share