Pemulihan Lingkungan Pascakebakaran Butuh Waktu Lama, Apa yang Perlu Dilakukan?

Salingnews.com – Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di hutan lindung Gunung Slamet yang terjadi di tiga kabupaten yaitu Brebes, Tegal, dan Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mendapat perhatian serius dari para pihak terkait. Sebelumnya, lereng Gunung Slamet bagian timur yang masuk wilayah Purbalingga juga terbakar. Hanya lereng wilayah Pemalang saja yang masih terbebas dari kebakaran.

kondisi hutan

Kondisi hutan Gunung Slamet bagian selatan yang terbakar. Foto : Istimewa/Mongabay Indonesia

Mengapa bisa terjadi kebakaran?

Sampai sekarang belum ada keterangan resmi penyebabnya. Namun, Ketua Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) Prof Tukirin Partomihardjo menduga kuat ada campur tangan manusia sehingga dapat memicu kebakaran.

“Kebakaran di hutan lindung, sangat sulit terjadi secara alami. Kemungkinan besar memang ada campur tangan manusia, entah disengaja atau tidak,”ungkap mantan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Tukirin yang merupakan ahli bidang ekologi dan suksesi ekosistem tersebut menjelaskan beberapa waktu lalu, dirinya ke Purwokerto dan mengikuti seminar hasil penelitian pascakebakaran Gunung Slamet yang terjadi pada 2015 silam.

“Waktu itu belum terjadi kebakaran, tetapi saya sudah meminta kepada seluruh stakeholders yang datang untuk waspada terhadap kebakaran. Karena kalau sudah terjadi kebakaran, pasti akan berdampak buruk bagi ekosistem dan lingkungan,”katanya saat dihubungi Mongabay pada Selasa (24/9/2019).

Kawasan hutan yang masih mengeluarkan asap akibat kebakaran di lereng selatan Gunung Slamet pada minggu kemarin. Foto : istimewa/Mongabay Indonesia

Tukirin yang pernah melakukan riset di kawasan Anak Krakatau selama 25 tahun tersebut tahu betul, bagaimana tanaman mengalami suksesi pascaletusan, mengatakan kalau sudah terjadi kebakaran, maka dampaknya buruk bagi lingkungan.

“Kebakaran yang terjadi di pegunungan, apalagi berulang, maka akan memicu terjadinya penggundulan. Pada akhirnya akan muncul padang rumput yang luas. Yang lebih membahayakan, jika telah menjadi padang rumput, tentu tidak dapat menahan air. Yang paling berbahaya adalah hilangnya sumber air yang ada di bawahnya,” jelas profesor yang dijuluki ‘King of Krakatoa’ tersebut.

Menurutnya, selain hilangnya sumber air, maka dapat juga memicu kejadian longsor. Inilah yang harus diperhatikan secara serius. “Memang, seharusnya yang paling diutamakan adalah menjaga agar tidak terjadi karhutla. Siapapun harus benar-benar peduli dan tidak memicu adanya api yang dapat membakar hutan. Sebab, untuk mengembalikan ke kondisi lingkungan seperti sedia kala membutuhkan waktu hingga ratusan tahun. Ada penelitian di wilayah Pulau Kalimantan, proses suksesi pascakebakaran hingga menjadi lingkungan seperti semula membutuhkan waktu hingga 250 tahun. Kalau di pegunungan, saya kira hampir sama juga,” katanya.

Dalam proses suksesi, sangat bergantung beberapa faktor. Di antaranya adalah lingkungan dan ketersediaan benih. “Proses suksesi membutuhkan kondisi lingkungan fisik yang memadai, seperti kondisi tanah dan ketersediaan air. Tidak hanya itu, ketersediaan biji juga menjadi prasyaratnya yang disebut dengan faktor biotik. Apakah di lokasi setempat ada sumber biji atau tidak. Jika tersedia sumber bijinya, maka suksesi akan dapat berlangsung. Nah, di sinilah membutuhkan campur tangan manusia agar bisa mempercepat suksesi,” ungkapnya.

Tukirin mengatakan cepat atau lambat proses suksesi dan pengembalian ke lingkungan semula juga tergantung dengan kondisi kebakaran. Akan lebih cepat kalau kebakaran tidak sampai menghabiskan pepohonan. “Tetapi intervensi manusia dibutuhkan untuk percepatannya. Sehingga begitu selesai kebakaran, maka diperlukan penanganan segera. Jangan sampai terjadi penggundulan dan nantinya akan muncul padang rumput,” tambahnya.

Petugas tengah melakukan pemadaman kebakaran hutan yang terjadi di lereng selatan Gunung Slamet pada minggu kemarin. Foto : Istimewa/Mongabay Indonesia

Kebakaran di Gunung Slamet

Sebetulnya, kebakaran hutan di Gunung Slamet tidak sering terjadi. Tetapi, tahun 2019 sekarang, kebakaran ternyata melanda cukup luas areal lereng gunung tertnggi di Jateng tersebut. Kebakaran paling awal terjadi di lereng timur Gunung Slamet pada pertengahan September lalu.

Kebakaran hutan terjadi pada areal hutan petak 58A dengan ketinggian 1.800 meter di atas pemukaan laut (mdpl). Hutan yang terbakar masuk wilayah kerja Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Serang, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur.

Administratur KPH Banyumas Timur Didiet Widhy Hidayat mengatakan kebakaran yang terjadi di lereng timur langsung diantisipasi dengan mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pemadaman. “Karena lokasinya jauh dan medannya berat, maka membutuhkan beberapa hari untuk melakukan pemadaman. Kebakaran yang terjadi mencapai 14,3 hektare (ha) dengan kerugian mencapai Rp107 juta lebih. Untuk mengantisipasi kebakaran, kami mengintensifkan patroli dan meminta masyarakat yang beraktivitas di sekitar hutan untuk tidak menyalakan api,”katanya.

Setelah peristiwa kebakaran di lereng timur, kebakaran di Gunung Slamet muncul di lereng sebelah barat. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, hingga pekan lalu, luasan yang terbakar di lereng barat wilayah Kabupaten Brebes mencapai 20 ha dan kemudian merambat ke Guci dan Banyumas.

Upaya pemadaman membuat parit sebagai penyekat api, lebarnya 3 meter dan panjang hingga 2,5 kilometer (km). Titik kedua dengan lebar parit mencapai 3 meter dan panjang 1,5 km. Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, dikerahkan lebih dari 600 personel gabungan. Sedangkan di Tegal, luasan yang terbakar mencapai 35 ha di sekitar Guci. Personel yang dikerahkan untuk memadamkan api sebanyak 290 orang lebih.

Petugas tengah berada di lokasi kebakaran Gunung Slamet di lereng sebelah selatan pada minggu kemarin. Foto : istimewa/Mongabay Indonesia

Api yang membakar kawasan hutan Gunung Slamet juga merembet ke wilayah Banyumas. Pemkab setempat serius menangani karhutla dengan mengerahkan personel gabungan serta menetapkan status darurat kebakaran.

“Dengan adanya status darurat kebakaran, maka penganggaran akan lebih mudah, karena penanganan membutuhkan kecepatan birokrasi. BPBD bersama elemen terkait lainnya terutama TNI, Polri, pecinta alam, masyarakat dan relawan lainnya melakukan terus melakukan upaya pemadaman. Banyak kendala yang dihadapi di antaranya adalah sulitnya medan karena lembah dan punggungan, serta untuk sampai ke lokasi membutuhkan waktu 8 jam perjalanan. Ketinggian lokasi yang terbakar juga di atas 2.000 mdpl,”ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Banyumas Ariono Poerwanto.

Ariono mengatakan pihaknya sangat serius dalam penanganan karhutla, karena hutan di Gunung Slamet merupakan bagian sangat penting bagi warga Banyumas. Hutan di gunung tersebut merupakan wilayah tangkapan air dan sumber air yang selama ini masih sangat bagus. Karena itu, upaya yang dilakukan adalah jangan sampai kebakaran meluas dan merusak daerah penyerapan air.

“Tim gabungan membuat penyekat api berubah parit dengan lebar sekitar 3 meter. Paling utama, melokalisir api, sehingga tidak merebet ke kawasan yang belum terbakar,”ungkapnya.

Ariono mengungkapkan pemicu kebakaran di lereng Gunung Slamet belum dapat dipastikan, hanya saja kebakaran yang terjadi di Banyumas sebetulnya merupakan rembetan dari kawasan Brebes. “Pemicu kebakaran belum diketahui secara persis, karena kalau kebakaran di hutan Gunung Slamet wilayah Banyumas merupakan rembetan dari Brebes. Pokoknya kami fokus pada pemadaman dan penyekatan api supaya tidak meluas,” tandasnya.

Sementara pegiat Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) Purwokerto Dhani Armanto mengungkapkan pascakebakaran, biasanya akan muncul spesies tanaman yang invasif. “Spesies ini ada yang jenisnya pohon, ada pula alang-alang. Namun, biasanya spesies ini akan mudah terbakar. Inilah yang sudah terjadi di Gunung Slamet, karena di beberapa tempat ada gejala penggurunan atau desertifikasi. Karena mungkin pernah kebakaran berkali-kali, yang muncul adalah spesies invasif dan celakanya, spesies itu mudah terbakar,”ujarnya.

Ia menjelaskan, pola proses penggurunan telah terjadi di Gunung Sindoro dan Sumbing. Jadi spesies invasif tersebut akan terus menekan spesies tanaman hutan lindung yang ada. “Maka dari itu, pascakebakaran perlu upaya yang serius dan komprehensif. Tidak asal melakukan reboisasi, padahal tanaman atau pohon reboisasi justru yang gampang terbakar. Karena yang dibutuhkan sebetulnya adalah rehabilitasi lahan yang lebih baik. Karena tidak bisa dengan model reboisasi biasa,”ujarnya.

Dhani mengatakan butuh kerja sama yang baik dari semua pihak, karena sebelum dilakukan reboisasi, yang paling penting adalah membersihkan dulu spesies yang invasif yang dapat memicu penggurunan.

“Setelah itu, baru menyemai anakan pepohonan hutan yang masih bagus. Saya ingin katakan, ada perluasan margin hutan. Jadi, batas hutan bisa lebih naik. Jadi tidak semata-mata melakukan reboisasi di kawasan yang terbakar, namun rehabilitasi lahan terlebih dahulu, supaya yang muncul bukan spesies invasif yang justru gampang terbakar. Intinya lebih memperluas ekosistem lindung,” tandasnya.

Menurutnya, spesies invasif ini selain mudah terbakar, juga mendesak ke arah hutan yang masih bagus sehingga bisa mengakibatkan habitat pohon yang kian tersingkir. Apalagi, dengan masifnya spesies invasif dapat juga mengubah karakter mikroklimat di Gunung Slamet. Inilah yang harus diperhatikan untuk ke depannya, jangan sampai proses penggurunan terjadi dan mendesak hutan lindung alami. (Red)

Sumber : mongabay.co.id

Share

Baca Juga