Peneliti sebut Kualitas Air Danau Toba Di Haranggaol Merah, Ini Kata Humas SaLing

Salingnews.com  – Pematangsiantar. Terkait adanya hasil penelitia  Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan penelitian  Hidrodinamika yang mengatakan bahwa kondisi kualitas air di Danau Toba, Sumatera Utara berada pada titik Hipertrofik atau rusak parah. Meski begitu kondisi ini masih berada di tempat-tempat tertentu danau.

Dalam kajiannya, Hadiid Agita Rustini, peneliti Hidrodinamika  mengatakan, kondisi tersebut disebabkan lantaran maraknya keramba jaring apung (KJA) ikan. Ikan-ikan yang berada di keramba tersebut menghasilkan kotoran (fases) dan menyebar keseluruh danau sehingga menyebabkan kualitas air buruk.

keramba jaring apung di danau Toba

Para Peneliti Hidrodinamika saat berdiskusi bertajuk Media Breafing di Kontor Lipi Jakarta. (Foto : news.okezone.com)

 Dalam catatan yang dirinya peroleh saat ini terdapat 11.286 ribu keramba di seluruh Danau Toba. Paling banyak ada di Kabupaten Simalungun yakni 7.700 keramba. Akibatnya air di wilayah tersebut kini sudah tidak dapat dikonsumsi.

Baca Juga :

“Jadi yang paling merah daerah Haranggaol (Kabupaten Simalungun), yang kepadatan KJA-nya paling tinggi. Warna merah itu artinya paling rusak kualitas airnya karena memang kepadatan KJAnya tinggi. Kemudian ada daerah Parapat, Silalahi itu juga kepadatan KJAnya tinggi dan status kualitas airnya Hipotropik (paling rusak),” terangnya.

Melhat hasil penelitian dari LIPI dan Hidrodinamika tersebut, Divisi Informasi Publik  dan Humas Lembaga Sahabat Lingkungan (SaLing) Hanter Siregar mengatakan kepada awak media ini, bahwa Pemerintah Khususnya di daerah Kabupaten Simalungun harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap pengelolaan Keramba Jaring Apung (KJA) di Haranggaol yang setiap hari atau bulan, semakin bertambah, dengan bertambahnya KJA tersebut, akibat kurangnya pengawasan dari Pemerintah maka kualitas Air Danau Toba di Haranggaol yang kondisinya saat ini sudah parah,  ditambah lagi akan berpotensi Semakin Parah. Senin (30/07/18).

“Kita juga sudah pernah lewat dari sana ( Haranggaol – Red), disituh sangat banyak KJA, dan informasi yang kita dapat disana, bahwa KJA itu adalah milik salah seorang pengusaha yang termasuk juga putra daerah disana, dan kita juga menemukan bahwa ada oknum – oknum  yang memperluas  wilayah KJA nya di perairan Haranggaol ada sekitar kurang lebih 20 KJA yang baru dibuka, namun tampaknya pemerintah Kabupaten Simalungun kurang tegas terhadap penambahan KJA tersebut”. Tuturnya.

Hanter juga menambahkan sembari mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun agar lebih memperhatikan kawasan Danau Toba di Wilayah perairan Haranggaol agar tidak semakin tercemar akibat adanya KJA di Haranggaol, serta pemerintah harus segera menutup atau mengurangi kepadatan KJA di wilayah Danau Toba, agar kerusakan Air Danau Toba berkurang dan kembali normal atau tidak lagi Merah (Keruh). (AS/Red)

Share

Baca Juga