Penyelenggara Pentas Lumba-Lumba Berdalih ‘Education’, Dedy : Segera Evaluasi Izin Atraksi

Salingnews.com – Pematangsiantar. Setelah beberapa hari digelar pertunjukan Sirkus atau Pentas Lumba-Lumba di Kota Pematangsiantar, hal ini tetap menjadi pusat perhatian dari beberapa aktivis Lingkungan.

Meskipun menuai kritikan pedas dari beberapa aktivis Lingkungan, pertunjukan Sirkus Lumba-Lumba tetap diselenggarakan. Hal ini dikecam oleh salah seorang pegiat/aktivis Lingkungan, Dedy Wibowo Damanik, Sekretaris Sahabat Lingkungan, Kota Pematangsiantar.

images (4)

Pentas Lumba – Lumba di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Menurut Dedy, pertunjukan Sirkus Lumba-Lumba telah mengabaikan beberapa poin penting terkait hewan ataupun satwa yang dilindungi. Selasa (27/08/19) sekitar pukul 13 : 30 Wib.

Baca juga :

“Bahwa dasar hukum terhadap hewan/satwa yang dilindungi termasuk Lumba-Lumba, diatur dalam UU No.5 tahun 1990, PP No.7 tahun 1999, dan PP No.8 tahun 1999. Pemerintah seolah loyo dalam bentuk pengawasan terhadap peraturan-peraturan yang telah dibuat. Jangan main-main, Pemerintah segera evaluasi atas pengeluaran izin Sirkus Lumba-Lumba.”Kata Dedy.

Dedy juga mengatakan bahwa pertunjukan Sirkus Lumba-Lumba yang dimulai pada tanggal 23 Agustus tersebut, berada di lahan yang diduga sedang bermasalah.

“ Itu adalah bukti Pemerintah Kota Pematangsiantar mundur seratus langkah demi satu langkah,” ungkapnya.

Lumba-Lumba adalah hewan yang senang berkoloni ataupun berkelompok, dan habitatnya berada di lautan lepas. Lumba-Lumba juga jenis hewan mamalia yang cukup pintar jika dibandingan dengan hewan mamalia lain. Atraksi atau pentas Lumba-Lumba tak lebih dari manifestasi ketamakan manusia yang ingin segalanya terlihat indah disekelilingnya.

Selanjutnya, Dedy merasa geram ketika pertunjukan Sirkus Lumba-Lumba bersembunyi dibalik kata “Edukasi”.

“Edukasinya dimana? Jangan bersembunyi dibalik kata Edukasi. Dengan Lumba-Lumba melompat ke lingkaran api itu menjadi sebuah edukasi?. Apakah Lumba-Lumba habitatnya berada di kolam berukuran segitu ‘kecil’. Justru, Lumba-Lumba tersebut akan dibiarkan lapar terlebih dahulu supaya dapat mengikuti perintah pawang dengan imingan akan diberi makan. Hal ini bukan lagi meng-edukasi, malah lebih ke eksploitasi.” Tuturnya dengan tegas.

Diketahui pentas lumba – lumba yang di gelar lahan Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PD PAUS), Jalan Melanthon Siregar, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, yang akan berlangsung selama 1 Bulan yakni 23 Agustus – 29 September 2019. (Tim/Red)

Share

Baca Juga