PLTA Batang Toru Ancaman Bagi Lingkungan dan Kehidupan Masyarakat

Salingnews.com – Medan. Menjelang putusan Pengadilan Tata Usaha Negeri Medan (PTUN Medan) mengenai gugatan WALHI terhadap izin lingkungan PLTA Batang Toru pada hari Senin, 04 Maret 2019 mendatang Walhi-Sumatera Utara melakukan Aksi Kampanye didepan Konsulat Jenderal Cina di Kota medan. Jumat (01/03/19).

IMG-20190301-WA0008

Walhi Sumut saat menggelar Aksi Unjukrasa di depan Kantor Bank of China Limited Branch di Medan.

Perlu kita ketahui Ekosistem Hutan Batang Toru merupakan hamparan hutan primer dengan luas sekitar 1.400 km persegi dan lebih dari 100.000 jiwa menggantungkan hidup dari hutan ini. Pada hulu sungai Batang Toru, terdapat sekitar 1.200 hektar lahan pertanian produktif milik masyarakat dan masyarakat adat. Hutan ini menjadi habitat asli orangutan Tapanuli, ranggong, enggang badak dan hewan lain yang dilindungi, karena jumlahnya sudah sangat langka. Kehadiran PLTA Batang Toru juga dipastikan bakal merusak habitat dan ekosistem Batang Toru yang berimplikasi pada kepunahan hewan atau tumbuhan yang menjadi identitas Tapanuli Selatan (Tapsel).

   “Stop Investasi Perusak Lingkungan Hidup Dibentang Alam Batang Toru”.

Oleh : Walhi Sumatera utara   

Hadirnya pembangunan PLTA Batang toru berlokasi di Tapanuli Selatan meliputi kecamatan marancar, kecamatan sipirok dan kecamatan batang toru menjadi ancaman baru terhadap rusaknya ekosistem sungai Batang Toru dan Hutan batang toru terhadap Kehidupan masyarakat khusunya di hilir sungai batang toru. Pembangunan PLTA Batang toru berada dibentang alam hutan batang toru, Hutan ini menjadi habitat asli orangutan Tapanuli, ranggong, enggang badak dan hewan lain yang dilindungi, karena jumlahnya sudah sangat langka. Kehadiran PLTA Batang Toru juga dipastikan bakal ancaman terhadap Habitat jelas akan merusak habitat dan ekosistem Batang Toru yang berimplikasi pada kepunahan hewan atau tumbuhan yang menjadi identitas Tapanuli Selatan (Tapsel).

Namun miris melihat kondisi saat ini pemerintah daerah Tapsel tak peduli terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati Hutan Batang Toru yang merupakan rimba terakhir di Sumatera. Hutan ini sendiri sejak dulu masih murni atau belum tersentuh perambahan oleh manusia. Kekayaan biodeversity yang dimiliki provinsi sumatera utara.

Investasi PLTA Batang Toru, PT.NSHE merupakan pendaan oleh Bank Of Cina, Awalnya Mega proyek ini di danai oleh Bank Dunia namun terhenti dipertengahan dikarnakan berdampak pada Lingkungan Hidup dan Sosial sehingga Bank dunia Mundur dan Menolak. Kemudian proses berjalan waktu akhirnya mega proyek PLTA Batang Toru, PT.NSHE didanai Oleh Bank Of China total pendanaan kurang lebih 27 Triliun.

“Kami tidak anti pembangunan hanya saja perlu kita meyelaraskan pembangunan dengan meminimalis kerusakan lingkungan hidup dan mengurangi dampak terhadap kehidupan masyarakat. Jika pembangunan hanya akan menyumbang kehancuran lingkungan hidup dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat Harus dihentikan”. Kata Walhi Sumut.

Dana Prima Tarigan Direktur Walhi Sumut menyampaikan bahwa Hingga saat ini, Bank of China, sebagai pendana dari proyek PLTA Batang Toru (kapasitas 510 MW) tetap diam dan tidak memberikan respon yang berarti mengenai protes yang terus disampaikan dan memilih untuk mengabaikan dampak lingkungan yang terjadi. Pada Mei 2018, WALHI Nasional pernah melakukan aksi penolakan pembangunan PLTA Batang Toru di depan kedutaan besar China di Jakarta. Awal Februari 2019, WALHI Sumatra Utara juga melakukan aksi serupa di depan Bank of China Limited Branch di Medan. Namun, masih belum ada tanggapan dari Bank of China. Walhi-Sumut melakukan aksi didepan kedutaan Konjen Cina meyampaikan Surat Terbuka dan Aksi Kampanye.

“Lokasi pembangunan Mega proyek PLTA Batang Toru di Zona Merah Gempa (Sesar Toru) Zona Patahan, dengan kapasitas air yang dibendung sekitar 30 Juta Meter Kubik dengan tinggi bendungan kurang lebih 85 Meter menjadi ancaman baru terhadap masyarakat yang dihilir yang bermukim di sepanjang aliran sungai batang toru (Memiliki Resiko bencana yang sangat tinggi) Peryataan Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. Jokowidodo bahwa pembangunan tidak boleh dilakukan di zona merah gempa. Begitu juga dengan pemukiman masyarakat, apalagi bendungan besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air,” katanya.

Lanjutnya menambahkan, Demi Penyelamatan Lingkungan Hidup dan Sumber daya alam untuk keberlangsungan kehidupan yang akan mendatang Wahana Lingkungan Hidup Indonesia daerah Sumatera Utara melakukan berbagai upaya Advokasi penyelamatan lingkungan hidup khusunya di Sumatera Utara salah satunya Hutan Batang Toru.
“Perlu kita ketahui bersama saat ini Walhi-Sumut masih berjuang melawan Gubernur sumatera utara terkait gugatan Izin Lingkungan PLTA Batang Toru yang diterbitkan oleh gubernur sumatera utara diberikan kepada PT.NSHE. Walhi-sumut sebagai pihak pengugat meyatakan bahwa Proses Penyusunan Amdal dinilai Cacat Prosedur, tidak suptansi dan melanggar regulasi yang berlaku. Perjuangan Walhi-Sumut Tibalah Pada Akhirnya dimana Pengadilan Tata Usaha Negara Medan akan membacakan Putusanya pada tanggal 04 Maret 2019. Semoga Hakim dapat berpihak terhadap Lingkungan Hidup dan Penyelamatan kehidupan Masyarakat yang berkelanjutan,” tuturnya.

Sementara itu, Aksi Kampanye yang dilakukan oleh walhi-sumut di depan Konsulat Cina Perwakilan Medan adalah sebagai berikut;

1. Meyampaikan surat terbuka Kepada Konsulat Jenderal China di medan terkait permasalahan pembangunan PLTA Batang Toru yang didanai oleh Bank Of China segera menghentikan Pendanaan Proyek PLTA Batang Toru dinilai berdampak besar terhadap kerusakan Lingkungan.

2. Memberikan Masukan kepada perwakilan pemerintah Cina bahwa Investasi yang didanai oleh Bank Of Cina terkait pembangunan PLTA Batang Toru berdampak pada Masyarakat di Hilir Sungai Batang Toru.

3. Menyampaikan kondisi lokasi pembangunan PLTA Batang Toru merupakan Sesar Aktif atau berada dizona Patahan Gempa yang sewaktu-waktu terjadi gempa dan menimbulkan bencana besar, dimana ratusan Jiwa di Hilir sungai Batang Toru terancam ketika bendungan jebol.

4. Pembangunan mega proyek PLTA Batang Toru akan menghancurkan hutan rimba terakhir yang ada di Sumatera. Batang Toru merupakan ikon ekosistem dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, rumah bagi hewan langka, yang baru saja dideskripsikan sebagai jenis Orangutan Tapanuli dan sumber penghidupan bagi komunitas masyarakat adat lokal. (AS/Red)

Share

Baca Juga