Proyek Akhir Tahun 2019 Di Siantar Coreng Toleransi Umat Beragama

IMG-20191223-WA0000

Salingnews.com – Pematangsiantar. Proyek pembangunan akhir tahun 2019 dengan skala besar-besaran di Kota Pematangsiantar menuai kritikan. Pasalnya, proyek kejar tayang tersebut dinilai telah menyebabkan macet, debu, dan merugikan masyarakat dalam mencari kebutuhan sehari-hari.

IMG-20191228-WA0001~2

Proyek di beberapa titik di wilayah Kota Pematangsiantar, yang mengganggu pengendara.

Terlebih lagi pada bulan Desember adanya perayaan besar umat kristiani, sehingga mengurangi nilai-nilai toleransi yang sudah dijaga. Hal itu disampaikan oleh Dedi Wibowo Damanik, Ketua Pemuda Jemaat GKPS Jalan Jenderal Sudirman Kota Pematangsiantar. Sabtu (28/12/19) sekitar pukul 14 : 00 Wib.

Menurutnya, proyek akhir tahun dengan skala besar-besaran tidak memiliki konsep dengan matang, sehingga ada masyarakat yang dirugikan, terutama umat kristiani dalam melaksanakan perayaan Natal.

Iklan Dedy Manihuruk

“Kita tidak menolak adanya pembangunan di Kota Pematangsiantar. Namun, dengan adanya proyek pembangunan dengan skala besar-besaran telah mengurangi nilai-nilai toleransi yang sudah dijaga selama ini.

IKLAN Kepala DLH

“Inikan bulan Desember, ada umat kristiani sedang merayakan Natal. Para perantau ataupun pemudik akan kembali ke kampung halaman untuk merayakan Natal. Sangat miris bahwa pemudik disuguhkan debu dan macet hanya karna bahan materil proyek berada di badan kanan kiri jalan. Sepertinya Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan sengaja atau memang tidak punya konsep dalam menentukan waktu pembangunan. Seharusnya sebelum Desember, proyek-proyek tersebut sudah bisa dinikmati para pemudik yang kembali ke Kota Siantar,” tegasnya.

Lanjutnya, bahwa diketahui ada beberapa pusat Gerejawi di Kota Pematangsiantar. Dan hal ini bisa dijadikan konsep dalam mendatangkan para wisatawan ke Kota Pematangsiantar. Pusat Gerejawi seperti GKPS, HKI, GKPI, GMACI, GPIP, GPPS, HKIP, dan masih banyak lagi.

“Kota Pematangsiantar punya pusat Gerejawi. Belum lagi ada replika pohon Natal tertinggi se-Asia Tenggara, inikan bisa menjadi icon dan menambahkan pendapatan Daerah dengan konsep wisata rohani. Sepertinya Pemerintah Kota Pematangsiantar sekarang alergi dengan tidak memanfaatkan momentum hari besar umat kristiani,” tutupnya. (Tim/Red)

Share

Baca Juga