Revitalisasi Taman Simpang Rambung Merah, Menuai Kritik Dari Himapsi Siantar

Iklan Dedy Manihuruk

Salingnews.com -Pematangsiantar. Dewan Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (DPC-HIMAPSI) Kota Pematangsiantar, mengkritik proses revitalisasi Taman Simpang Rambung Merah, yang dikerjakan oleh Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarukim) Pematangsiantar.

IMG-20191221-WA0002

Bangunan mirip monumen bertuliskan Raja Sangnaualuh, yang berada di Taman Simpang Rambung Merah, Kota Pematangsiantar. 

Himapsi menilai, pengerjaan proyek tersebut terkesan tertutup. Selain itu, Himapsi Siantar juga menilai ada yang kurang tepat dengan pencantuman petuah Raja Sang Naualuh Damanik, dalam bangunan sejenis monumen di bagian taman dimaksud.

Ketua DPC Himapsi Siantar Jonli Simarmata mengatakan, ketidak terbukaan informasi dalam proyek tersebut adalah tidak adanya papan informasi di lokasi pengerjaan, terkait proyek dimaksud.

“Ini awalnya kita nilai sebagai proyek yang tidak jelas. Karena tak ada papan informasi di lokasi pengerjaan. Kami telusuri dan cari informasi, ternyata kuat dugaan proyek ini dikerjakan oleh Dinas Tarukim,” ujar Jonli, Jumat (20/12/19).

IMG-20191221-WA0000

Ketua DPC Himapsi Kota Pematangsiantar, Jonli Simarmata saat meninjau bangunan Revitalisasi Taman Simpang Rambung merah.

Jonli melanjutkan, pihaknya tertarik untuk menelusuri informasi seputar proyek tersebut, karena ada pembangunan sejenis monumen di dalamnya. Dimana, dalam bangunan sejenis monumen tersebut dicantumkan petuah Raja Sang Naualuh Damanik. Akan tetapi menurutnya, ada yang kurang lengkap dalam pencantuman tersebut.

Pertama, tidak dituliskannya marga dari Raja Sang Naualuh dalam bangunan tersebut. Yang ditulis hanya lah namanya.

” Padahal Raja Sang Naualuh itu kan punya marga. Marga Damanik,” kata Jonli.

Kemudian yang kedua menurutnya, sudah sewajarnya jika membuat bangunan sejenis monumen seperti itu, disosialisaikan dulu kepada publik secara khusus tokoh-tokoh Simalungun. Dia berpendapat hal ini diperlukan, supaya ada masukan dari masyarakat khususnya tokoh Simalungun, sebab bangunan tersebut ada kaitannya dengan pahlawan dari daerah Simalungun.

“Kami berpendapat sosialisasi untuk pembangunan itu perlu dilakukan. Biar kita juga tau, apakah itu bangunan sejenis monumen, atau apa? Ini kan berkaitan dengan pahlawan dari daerah Simalungun ini, ” ujar Jonli.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Tarukim Pematangsiantar Reinward Simanjuntak melalui Kasi Bina Konstruksi Perumahan, Eva, membenarkan bahwa proyek tersebut dikerjakan oleh Dinas Tarukim, ditampung dalam APBD Siantar Tahun 2019 dengan judul kegiatan Lanjutan Revitalisasi Taman Simpang Rambung Merah Pematangsiantar, dengan anggaran sebesar Rp.200 juta.

“Anggaran ada ditampung di APBD 2019 dan terdapat juga di RUP (Rencana Umum Pengadaan – red) Pemko Pematangsiantar,” ujarnya dikonfirmasi melalui Whatsapp, Jumat (20/12/19) sore.

Terkait masalah papan informasi pekerjaan, dia mengatakan sepanjang yang diketahuinya proyek dimaksud memiliki plank proyek.

“Masalah plank proyek nanti coba saya konfirmasi ke PPK (Pejabat Pembuat Komitmen – red). Karena setau saya ada plank. Tapi gak tau apa dicabut atau kena cabut,” lanjutnya.

Untuk masalah sosialisasi, awalnya Eva mengatakan tidak ada anggaran untuk sosialisasi.
“Dan kebetulan juga kita tidak ada anggaran untuk sosialisasi begitu,” ucapnya.

Namun sesaat kemudian dia mengatakan, bahwa sepengingatannya sosialisasi untuk proyek dimaksud sudah pernah dilakukan .

“Masalah sosialisasi sepertinya sudah pernah ada di media. Ntar coba saya searching ya,” ujarnya, yang sejurus kemudian ia mengirimkan link berita terkait hal itu.

Menanggapi tidak adanya semacam pelibatan tokoh masyarakat, dalam pembahasan terkait adanya pencantuman petuah Raja Sang Naualuh Damanik tersebut, ia mengatakan bahwa pembuatan bangunan mirip monumen itu, tidak ada kaitannya dengan Sang Naualuh.

“Sebenarnya itu kita gak kaitkan dengan Sang Naualuh. Tapi ambil tema Simalungun salah satunya Dayok, yang artinya pekerja keras, disiplin waktu. Dayok Mirah : Ayam Jantan Merah, ” ucapnya.

Ditanya lebih lanjut terkait tanggapannya yang mengatakan tidak adanya kaitan bangunan itu dengan Sang Naualuh, padahal petuahnya dicantumkan dalam bangunan tersebut, Eva menjawab bahwa tulisan petuah itu sudah diganti.

“Udah diganti jadi aksara Simalungun Dayok Mirah. Kita minta tulisan aksara ke Pak Jomen Purba yang di Museum Simalungun,” jawabnya.

Mengenai pergantian tulisan tersebut, Eva menyampaikan alasan bahwa pencantuman Petuah Raja Sang Naualuh Damanik dalam bangunan mirip monumen tersebut terlalu ribet.

“Satunya terlalu ribet dan terlalu rame. kita sederhanakan aja konsepnya sekalian mengenalkan aksara Simalungun,” ucapnya. (Tim/Red)

IKLAN DPP HIMAPSI

Share

Baca Juga