Sampah yang Membuat Bumi Tidak Lagi Indah

Salingnews.com – Medan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan, lingkungan akan terjaga dan Bumi tetap indah bila antara kebijakan yang digulirkan bersinergi dengan kepedulian masyarakat. Bersama, merawat lingkungan. Hal ini disampaikan Siti dalam Pekan Bumi dan Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH) 2018, yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), di Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara, pada  Minggu (22/04/18) lalu.

Siti menjelaskan, untuk bisa menjaga Bumi dengan baik, salah satu syarat yang harus dilakukan adalah membersihkannya dari sampah. Menurutnya, sebanyak 4.613 aksi telah dilakukan sejak awal Januari 2018, dengan melibatkan 630 ribu orang untuk membersihkan sampah di Indonesia. Sosialisasi juga dilakukan pada 9 juta orang yang berada di 157 kabupaten dan kota di Indonesia.

Selamatkan Rimba Terakhir

Ucok Bakau yang merupakan tokoh penerima Kalpataru, tengah memegang logo Bumi. Dia berpesan manusia harus menjaga Bumi sebaik mungkin. Foto: Mongabay Indonesia.

“Apa yang dilakukan di Medan, terlihat aktivis lingkungan bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam menjaga lingkungan. Konsep Medan Zero Waste City 2020 harus didukung, demi Bumi bebas sampah,” jelasnya.

Untuk mengatasi sampah, ada beberapa kabupaten/kota yang sudah bergiat mengatasinya yaitu Kota Padang, Barito Kuala, Tabalong, Surabaya, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Kabupaten Tuban. Hingga 21 April 2018, telah diangkut sampah sebanyak 4.951 ton.

“Saya mengajak aktivis di Indonesia untuk terlibat dalam langkah-langkah koreksi yang sedang dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi, yaitu dalam sektor lingkungan hidup dan kehutanan,” terangnya.

Siti menambahkan, lingkungan hidup dan kehutanan berkaitan dengan ketimpangan penguasaan ruang atau sumber daya alam yang sudah berlangsung begitu lama. Pemulihan kualitas lingkungan baik di darat, laut, udara, serta gerakan bebas sampah, hingga pengembangan model ekonomi hijau yang dapat mengantarkan keadilan, kesejahteraan, dan kelestarian bagi kepentingan masyarakat, akan terus dilakukan.

“Generasi muda Indonesia harus semangat. Optimisme hijau harus terus dibangun demi Bumi yang kita dicintai, membebaskannya dari kerusakan dan sampah,” jelasnya.

Sejumlah mahasiswa melukis tubuhnya dalam rangkaian peringatan Hari Bumi di Medan, Sumatera Utara. Foto: Mongabay Indonesia.

 Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengatakan, pihaknya akan menjadikan Kota Medan sebagai pilot project mengatasi sampah. Konsep Medan Zero Waste City 2020, akan diwujudkan melalui berbagai kebijakan dan peraturan. “Dengan dukungan publik, Medan ditargetkan bebas sampah pada 2020.”

Dzulmi menjelaskan, Medan yang memiliki luas 26 ribu hektar, setiap harinya menghasilkan sampah 2.500 hingga 3.000 ton. Mengatasinya, masih dengan cara konvesional. Sampah hanya diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir di daerah Terjun, yang luasnya 16 hektar.

Pihaknya tengah menyusun cara mengolah sampah menjadi energi terbarukan. Upaya ini diharapkan bisa menekan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. “Permasalahan saat ini adalah sampah yang berada di aliran Sungai Deli. Kita berharap bisa diatasi, sebagaimana target awal,” tuturnya.

Nur Hidayati, Direktur Eksekutif Walhi Nasional mengatakan, Medan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Apa yang terjadi di kota mempengaruhi desa. Pola konsumsi masyarakat kota mempengaruhi wilayah desa. Walhi melihat, strategi mengatasi masalah di kota akan menjadi penting untuk bisa mengatasi persoalan di desa.

Sampah menjadi permasalahan penting yang pemecahannya masih pada pengelolaan di titik akhir. Padahal jika ingin mengelola secara menyeluruh, harus dilihat dari hulu hingga hilir. “Mulai dari sistem produksi barang dan kemasannya.”

Konsep Zero Waste City ini, menurut Nur Hidayati, ingin menunjukkan bahwa bebas sampah itu mungkin. Yang paling penting adalah mengubah sistem ekonomi Indonesia, meski tidak mudah.

“Saat ini yang belum dilakukan adalah tanggung jawab produsen. Padahal, sudah ada dalam undang-undangan sampah. Penyelesaian sampah bukan hanya tanggung jawab KLHK, tetapi juga Kementerian Perindustrian, Pekerjaan Umum dan lainnya.”

Mengenai tanggung jawab ini, menurut dia sama sekali belum terjadi di Indonesia. Produsen yang menghasilkan sampah, harusnya mengambil kembali kemasannya untuk mendaur ulang.

“Di Inggris, setiap konsumen yang membeli produk akan dikenakan uang tambahan. Jika produk habis, kemasan dikembalikan ke supermarket, dan uang yang lebih tadi dikembalikan ke konsumen. Ini belum terjadi di Indonesia, untuk mengatasi persaoalan yang ada,” tandasnya. (Red)

Sumber : mongabay.co.id

Share

Baca Juga