Seputar Pilkada Siantar, Apa Untung Rugi Bila Pjs atau Wali Kota Definitif menjabat?

Salingnews.com – Pematangsiantar | Ditengah perhelatan kontestasi Pilkada yang diadakan serentak pada tahun 2020, Kota Pematangsiantar termasuk salah satu menyita perhatian publik.

Sebab Pilkada sekarang merupakan sejarah baru karena untuk pertama kali hanya ada satu Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pematangsiantar, yaitu Ir Asner Silalahi MT dan dr Susanti Dewayani (PASTI).

Seiring dengan itu, banyak orang berdebat soal untung dan ruginya kota ini saat dipimpin oleh Wali Kota definitif atau Penjabat Sementara (Pjs).

IMG-20201116-WA0018Ket. Foto: Robert Pardede Pensiunan ASN/Tim

Menjawab itu, Robert Pardede, seorang pensiunan ASN yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan di Kabupaten Simalungun, Kepala Dinas Pariwisata di Kabupaten Tobasa, dan pernah di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional)
menjelaskan, bahwa jabatan Wali Kota definitif memiliki visi dan misi serta keleluasaan melaksanakan pemerintahannya.

Sedangkan Pjs Wali Kota yang diunjuk oleh Gubernur melalui Kementerian Dalam Negeri, memiliki keterbatasan dan sifatnya hanya menjalankan roda pemerintahan. Pjs sendiri jelas tidak memiliki visi dan misi pribadinya.

Oleh karena itu, bagi Robert Pardede, agar kota ini maju maka lebih berpeluang ditangan kepala daerah definitif. Karena alasan itu, menurutnya, masyarakat Kota Pematangsiantar lebih baik memilih pasangan calon yang ada, yakni Asner-Susanti.

“Siantar sangat rugi kalau tidak dipimpin oleh Wali Kota definitif. Karena jabatan Pjs biasanya cuma setahun, dan kalau pimpinannya tidak suka bisa diganti setiap tahunnya,” ucapnya.

Kerugian paling besar adalah proses pemerintahan termasuk mengharmoniskan dengan DPRD, membina (mengawasi) ASN, proses APBP termasuk P-APBD, dimana dalam pelaksanaannya kalau definitif bisa langsung dikerjakan sementara jika Pjs tidak leluasa.

“Pjs hanya melakukan regulasi semata tidak bisa melakukan kebijakan terukur (sangat terbatas),” ujarnya.

Asner-Susanti, di mata pria yang pernah mencalonkan sebagai Wakil Wali Kota Manado ini, merupakan pasangan petarung yang dipersatukan Tuhan untuk memimpin Kota Pematangsiantar.

Pengalaman Asner-Susanti puluhan tahun bekerja di dunia birokrat sebagai ASN memiliki kriteria sangat layak untuk memimipin Siantar. Asner Silalahi pensiun dini dari Kementerian PUPR dan dr Susanti juga pensiun dini dari ASN sebagai dokter spesialis anak. Dua-duanya bekerja di instansi dengan akademik yang baik.

Dalam konsep membangun kota, Asner diyakini dapat melakukannya karena sudah berpengalaman dan lama bergerak di infrastruktur dan dalam membangun infrastruktur segala bidang, Asner pasti mampu termasuk dalam menjalankan peraturan.

“Infrastruktur tidak semata fokus dengan jalan tapi penataannya juga harus tepat. Kita harus tahu infrastruktur itu ada 3, yaitu infrastruktur keras, infrastruktur non fisik, dan infrastruktur lunak itulah semacam peraturan dan lain sebagainya,” tambahnya.

Robert menambahkan lagi, seorang Asner sudah menjiwai dan memaknai apa infrastruktur itu yang akan dibawa dan diadopsinya ke Siantar.

“Itu sudah pasti karena saya yakin dia sudah 28 tahun berkecimpung di bidangnya,” ucapnya.

Sementara kata Robert, terkait sosok Calon Wakil Wali Kota, dr Susanti juga seorang petarung. Susanti akan melihat penyakit pemerintahan dan akan membenahi itu semua. Ibarat seorang dokter melihat penyakit anak-anak.

“Dua-duanya petarung. Petarung dibidangnya, petarung kemanusiaan. Jadi untuk pasangan ini, Tuhan mempersatukannya untuk membangun Siantar,” ujarnya seraya mengatakan sayang jika orang Siantar tidak mendukung Asner-Susanti.

Robert Pardede juga yakin jika Asner Silalahi merupakan seorang yang spesialis dibidangnya dan dia tidak kaku menerapkan ilmunya untuk generalis.

Diakhir perbincangan perihal dalam mendukung Asner, dirinya telah melakukan survey selama dua bulan.

“Saya tidak kenal Asner dan Asner tidak mengenal saya, dan saya tidak ada kepentingan karena saya sudah pensiun,” tutupnya. (Tim/Red)

Share