Sidak ke RS Vita Insani, Komisi III DPRD Siantar Temukan Keganjilan Pengolahan Limbah

IMG_20200619_172832

Ket Foto : (Komisi III DPRD Kota Pematangsiantar Sidak ke Rumah Sakit Vita Insani)

Salingnews.com – Pematangsiantar

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pematangsiantar inspeksi mendadak (Sidak) ke Rumah Sakit Vita Insani, Jalan Merdeka, Kecamatan Siantar Timur, hari ini sekitar pukul 10.30 WIB, Jumat (19/06/2020).

Sidak tersebut meninjau langsung proses teknis pengelolaan limbah yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit hingga pembuangan limbah akhir.

Ketua Komisi III Denny Torang Siahaan menyebutkan adanya keganjilan saat sedang mengunjungi panel bagian belakang rumah sakit yang berhubungan dengan instalasi pengolahan limbah cair.

“Kami menemukan suatu keganjilan. Dari proses yang kami lihat adanya keganjilan soal pipa laundry yang tidak terhubung ke pembuangan akhir. Kemudian, pihak manajemen rumah sakit terkesan tidak siap memberikan informasi yang kami minta. Kami hari ini ada sekitar 5 (lima) jam berada disana, namun tidak ada diberikan dokumen apapun. Jadi kami berharap, dalam waktu dekat pihak DPRD akan melakukan RDP (Rapat Dengar Pendapat),” ungkapnya kepada awak media.

Disela-sela sidak tersebut, Komisi III menyediakan 6 (enam) ekor ikan untuk dijadikan indikator biologis terhadap pembuangan limbah akhir. Dari sana akan terlihat apakah limbah pembuangan akhir tersebut berbahaya atau tidak berbahaya.

Menurut Manotar Ambarita, Kepala Seksi Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pematangsiantar yang juga turut serta mendampingi Komisi III menjelaskan bahwa ikan yang dimasukkan kedalam limbah pembuangan akhir tersebut adalah sebuah indikator bilogis yang hasilnya dapat ditemukan bilamana ikan tersebut mengalami kematian.

“Hal tersebut adalah sebagai indikator biologis, namun tidak menjadi patokan utama. Tapi harus dilakukan dengan metode tertentu, ada pemantauannya, kira-kira berapa jam, entah itu berapa hari,” ungkapnya.

Terkhusus air limbah, Manotar mengatakan harus setiap hari dilakukan pemeriksaan dan pihak rumah sakit melaporkan per 3 (tiga) bulannya kepada DLH.

“Mereka melaporkan per tiga bulannya. Yang diperiksa itu air limbah domestik dan ada juga parameter lainnya. Karena itu tergabung selain dari limbah domestik, maka ada limbah dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) yang bukan termasuk limbah domestik, tapi bisa masuk ke pembuangan limbah akhir, itu ada lagi klasifikasinya,” terangnya.

Anggota Komisi III, Astronout Nainggolan, menyampaikan hal menohok bahwa pihak manajemen rumah sakit Vita Insani tidak memiliki perencanaan dalam pengolahan limbah, bahkan politisi dari PDI-P ini curiga air limbah tidak diolah semua.

“Saya meyakini tidak ada perencanaan dalam pengolahan limbah. Saya juga curiga air limbah tidak diolah semua,” tegasnya saat pertemuan di dalam ruangan yang difasilitasi oleh pihak manajemen rumah sakit.

Dilansir dari data dan informasi yang diterima oleh media, ada sumber limbah yang bermuara ke pembuangan akhir namun tidak terlihat pada skema/peta instalasi pengolahan limbah cair rumah sakit Vita Insani. Sumber limbah tersebut meliputi air limbah dari kamar mandi, air limbah dari dapur, air limbah dari wastafel unit penunjang medis, dan air limbah dari septic tank.

Menyoal Volume Debit Air Yang Ditampung dan Dikeluarkan

Komisi III DPRD Kota Pematangsiantar mengatakan tidak masuk akal soal volume debit air yang ditampung dengan yang dikeluarkan. Menurut mereka, standar penggunaan air oleh manusia dalam sehari sekitar 200 liter, sedangkan pihak rumah sakit menjelaskan volume debit air yang dikeluarkan berkisar 220 meterĀ³ per harinya. Pantauan Komisi III saat melakukan inspeksi mendadak tidak seperti yang dijelaskan terkait volume debit air yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.

Komisi III dalam hal ini akan memanggil pihak pengelola rumah sakit dan Dinas terkait untuk duduk bersama pada agenda RDP dalam waktu dekat ini.

Ketua Komisi III, Denny Torang Siahaan, bersama dengan anggota lainnya seperti Immanuel Lingga, Astronout Nainggolan, Daud Simanjuntak, Dedy Manihuruk, berharap hal ini adalah awal untuk mewujudkan keseriusan Pemerintah Kota dalam penanganan dan pengawasan kedepannya. Karena menurut mereka hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak, maka setiap panduan, regulasi, peraturan perundang-undangan, harus ditegaskan agar yang lainnya mengikuti aturan.

(DD/Tim)

Share