Sirkus Lumba Lumba di Siantar, Edukasi Yang Mengancam Satwa

Salingnews.com – Pematangsiantar. Sirkus lumba-lumba sudah lama ada di Indonesia. Meski banyak pihak yang menolak karena dianggap menyiksa hewan pameran, nyatanya sirkus lumba – lumba masih tetap berlangsung, seperti di Kota Pematangsiantar. Hal itu di sampaikan oleh Ketua UKM Kesenian Budaya Dan Musik (KBM) Universitas Simalungun,  Abdi Arrahman.

Screenshot_20190824-130543~2

Pertunjukan Sirkus Lumba – Lumba saat berlangsung di lapangan Eks Rumah Potong Hewan, Jalan Melanthon Siregar, Kota Pematangsiantar.

Abdi Arrahman menjelaskan bahwa pihak penyelenggara berdalih apa yang mereka lakukan adalah bagian dari edukasi dan konservasi. PT Wesut Seguni Indonesia (WSI) yang mengadakan sirkus lumba-lumba keliling dari satu kota ke kota lain termasuk di Kota Pematangsiantar.

“PT WSI yang berpusat di Kendal, Jawa Tengah, dirasa perlu di koreksi oleh Pemerintah terkait izin yang dirasa tidak tepat karena mengancam kehidupan lumba – lumba sebagai hewan mamalia,” kata Ketua UKM- KBM Universitas Simalungun itu. Minggu (25/08/19).

Dia juga menambahkan, salah satu poin penting adalah larangan memperagakan satwa yang tidak sesuai dengan etika dan kesejahteraan satwa. Sebab saat pertunjukan satwa dalam kondisi lapar agar mudah dikendalikan.

“Selain itu ekosistem yang tidak alami dipandang sebagai tindakan yang mengancam keselamatan satwa,” ungkapnya Abdi Arrahman.

Selama ini pun edukasi dan konservasi menjadi hal yang digembar-gemborkan PT WSI. Namun, menurut Kelompok Pencinta Alam Akar Rimba penyelenggaraan sirkus lumba-lumba harus dihentikan karena dirasa sebagai bentuk mengesploitasi.

“Edukasi, justru eksploitasi adalah hal yang terjadi dan menyebabkan lumba – lumba hidup penuh keterbatasan,” tutur  Farian Lubis selaku Ketua Akar Rimba.

Farian menegaskan, undang undang tahun 5 tahun 1990 tentang Konsevasi Alam Hayati dan Ekosistem dan peraturan pemerintah No 7 tahun 1999 menjelaskan perlindungan kepada hewan termasuk lumba – lumba.

“Sudah jelas menurut uu setiap orang dilarang menyakiti, mengeksploitasi dan memindahkan hewan dari tempat ke tempat yang lain,” terang Farian.

Dalam pertunjukan itu juga terdapat beberapa satwa yang akan tampil menghibur para penonton. Hewan itu seperti Lumba lumba, Burung Kakatua, dan Berang berang. Dalam pertunjukan satwa akan diminta mengikuti arahan pendamping dari pihak penyelenggara. Jika satwa mengikuti arahan maka sang pawang akan memberi beberapa makanan kepada satwa.

Roy Lumbangaol Aktifis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara, menegaskan penolakan terhadap hal tersebut. Hal itu dirasa mencederai dan menyampingkan kesejateraan satwa.

Roy Lumbangaol menambahkan, Lumba – lumba adalah jenis mamalia air yang memiliki kecerdas  dan termasuk termasuk satwa liar. Seharusnya satwa tersebut hidup di laut lepas namun karena ekslpoitasi oleh manusia mengakibatkan lumba lumba terancam punah.

“Itu sebab dilindungi (Lumba lumba) dan terkait izin dari pemerintah sebaiknya tidak memberikan kepada PT. WSI,  karena jelas melanggar hukum” papar Roy Lumbangaol. Pada Jumat (23/08/19) yang lalu.

Roy meyampaikan WALHI Sumatera Utara memandang pertunjukan lumba – lumba itu hanya untuk mendapatkan Keuntungan Besar bagi mereka selaku pengelolah sementara kepada satwa mereka yang dijadikan objek mengeruk keuntungan dan hidup secara tidak layak.

“Stop eksploitasi kepada lumba -lumba di Kota Pematangsiantar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mereka memiliki wewenang melakukan tinjauan ke pentas lumba – lumba yang ada di Kota Pematangsiantar. Sebaiknya pemerintah jangan mengeluarkan izin tersebut,” tutupnya.

Terpisah saat pembukaan pertunjukan lumba lumba yang dilaksanakan  pada tanggal 23 Agustus – 29 September 2019 di Jalan Melanthon Siregar, Kota Pematangsiantar Sumatera Utara, pengelolah menyampaikan tujuan edukasi kepada masyarakat siantar karena berada jauh dari laut.

“Ini adalah wahana hiburan dan edukasi karena siantar jauh dari laut. Jadi lewat pertunjukan ini, masyarakat dapat mengenal lumba lumba” papar Tomy, perwakilan PT. WSI, saat pembukaan pertunjukan lumba – lumba, Jumat (23/08/19) yang lalu.

Pertunjukan Lumba – lumba yang memanfaatkan lahan Perusahaan Daerah dan Aneka Usaha (PD PAUS) yang mangkrak akibat dugaan korupsi juga mendapat respon dari warga setempat.

“Liatlah sekarang PD Paus uda jadi PD Lumba lumba heran juga awak” tutur Matius Sianturi salah satu warga. (Tim/Red)

Share

Baca Juga