Tantangan Perikanan Budi daya sebagai Masa Depan Perikanan Dunia

Iklan Dedy Manihuruk

Salingnews.com – Masa depan sektor kelautan dan perikanan sudah ditasbihkan oleh dunia ada di tangan sub sektor perikanan budi daya. Penasbihan itu, didasarkan pada kenyataan bahwa perikanan budi daya masih menyimpan potensi produksi yang sangat besar dan butuh pengembangan lebih baik lagi dibandingkan sekarang.

Potensi tersebut, bagi Direktur Jenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto harus didukung oleh ekosistem yang lengkap dan sehat dalam upaya pengembangannya. Di antaranya, adalah berkaitan dengan ketersediaan pakan ikan untuk produksi budi daya.

Seorang-pekerja-tengah-memberikan-makanan-ke-ikan-di-KJA-yang-ada-di-kawasan-Danau-Toba-Ayat-S-karokaro-768x512

Seorang pekerja tengah memberikan makanan ikan di keramba jaring apung yang ada di Danau Toba. Foto: Ayat S karokaro/Mongabay Indonesia

“Saat ini, budi daya menjadi harapan, karena perikanan tangkap sudah semakin terkikis produksinya. Ada yang sudah overfished atau ada juga yang ekosistemnya rusak,” ucap dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

IMG-20191223-WA0000

Selama ini, menurut dia, ketersediaan pakan ikan selalu bergantung pada hasil produksi dari pabrikan besar yang bahan bakunya sebagian besar menggunakan bahan-bahan dari luar negeri atau impor. Dengan bergantung pada bahan impor, hasil produksi pakan pabrikan menjadi mahal harganya dan cukup menyulitkan bagi pembudi daya ikan skala kecil.

Ironi yang terjadi di lapangan tersebut, bagi Pemerintah Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Di satu sisi, Negara berkomitmen untuk bisa menghadirkan pakan ikan yang berkualitas dan mengandung protein yang tinggi. Tetapi, di sisi lain juga Negara berkomitmen untuk memberikan kemudahan akses bagi pembudi daya ikan skala kecil.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Slamet mengaku kalau Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sudah mengembangkam program pakan ikan mandiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Program tersebut, bertujuan untuk menyediakan pasokan pakan ikan murah dengan protein yang tinggi bagi pembudi daya ikan skala kecil.

“Salah satu yang dilakukan, adalah menjalin kerja sama dengan FAO (Lembaga Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa),” tutur dia.

Kerja sama tersebut, selain bertujuan untuk menghasilkan pakan ikan yang murah dan berkualitas, juga untuk menjamin produksi perikanan tetap berkelanjutan. Dengan kata lain, pakan ikan yang diproduksi akan ikut mendorong berjalannya prinsip berkelanjutan pada sistem budi daya perikanan.

IKLAN Kepala DLH

Slamet menyebutkan, pakan ikan dengan menggunakan formula khusus yang dibuat FAO, berhasil diproduksi untuk ikan patin. Produksi tersebut dilakukan dengan melakukan penelitian dan berbagai uji coba yang dilakukan sepanjang 2019.

“Kita ingin ikan air tawar mendapatkan pakan ikan yang berkualitas, namun dengan biaya yang murah yang dihasilkan oleh produsen pakan ikan skala kecil,” tutur dia.

Hamdani, kepala bagian pembesaran PT Bali Barramundi, Buleleng, Bali pada Kamis (10/5/2018) memberikan pakan pada ikan budi daya di keramba. Perusahaan itu telah menerapkan prinsip Seafood Savers untuk perikanan berkelanjutan. Foto : Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Air Tawar

Tentang pengembangan pakan ikan yang lebih dikhususkan untuk ikan air tawar, terutama ikan patin, menurut Slamet itu didasarkan pada fakta bahwa ikan tersebut menjadi salah satu primadona ekspor bagi Indonesia. Selain itu, ikan patin juga disukain oleh masyarakat Indonesia, karena dagingnya yang enak.

Dengan hadirnya pakan ikan mandiri hasil formula FAO tersebut, Slamet meyakini bahwa produksi yang berasal dari skala kecil bisa digenjot seperti halnya pembudi daya skala besar yang bermodalkan besar. Namun, upaya tersebut juga tetap tidak meninggalkan prinsip berkelanjutan yang sudah menjadi pakem bagi Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan perikanan budi daya sekarang.

Salah satu yang menjadi fokus dari FAO itu, adalah pengembangan limbah kelapa sawit (palm kernel meal/PKM) yang bahan bakunya melimpah di seluruh pulau Sumatera. Pengembangan PKM atau biasa disebut oleh warga lokal dengan nama bungkil itu, menjadi jawaban atas keresahan pembudi daya ikan skala kecil selama ini terhadap mahalnya harga pakan ikan dari pabrikan.

“Tetapi, di sisi lain, pengembangan tersebut rupanya ikut menaikkan harga bungkil di Sumatera. Ini juga sedang dipikirkan jalan keluarnya. Mengingat, kita ingin mengembangkan pakan ikan mandiri dengan bahan baku lokal masing-masing daerah,” tutur dia.

Slamet menambahkan, pentingnya dilakukan pengendalian harga pakan ikan, karena itu bisa mengendalikan ongkos produksi budi daya sangat banyak. Mengingat, biaya pembelian pakan ikan bisa mencapai 70 persen dari total ongkos produksi untuk budi daya.

Dengan kata lain, saat Pemerintah sedang fokus untuk mengembangkan produksi perikanan budi daya, maka kehadiran pakan ikan mandiri dengan formula dari FAO akan ikut membantu proses percepatan. Kemudian, itu jug akan ikut membantu Pemerintah untuk mewujudkan perikanan budi daya tetap berkelanjutan dengan menjaga lingkungan sekitar.

Seorang pekerja sedang memberikan pakan pada ikan nila dalam budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Jay Fajar/Mongabay Indonesia

Di tempat sama, Asisten Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Ageng Herianto mengatakan, penyediaan pakan ikan murah untuk pembudi daya ikan skala kecil memang menjadi fokus dari Pemerintah Indonesia saat menjalin kerja sama dengan FAO. Fokus tersebut dilakukan, karena selama ini harga pakan ikan dinilai terlalu tinggi yang ada di pasaran.

“Kalau untuk (pembudi daya ikan) skala besar, harga pakan ikan yang diproduksi pabrikan masih sangat terjangkau. Namun, bagi skala kecil ini jadi masalah,” jelas dia.

Ramah Lingkungan

Ia menargetkan formula yang dihasilkan dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi yang 70 persen-nya dipicu dari harga pakan yang tinggi. Ia juga memastikan bahwa produk pakan formula FAO telah memenuhi standar mutu sesuai SNI dengan kisaran protein sebesar 20 – 25 persen.

“Di sisi lain, produk ini aman dari tambahan bahan bahan kimia dan biologis yang berbahaya,” tegas dia.

Hingga November tahun 2019, total produksi pakan mandiri secara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi. Dimana saat ini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17 persen.

Pengembangan produksi budi daya perikanan yang tengah dilakukan KKP sekarang, tidak lain karena keinginan Presiden RI Joko Widodo yang ingin mendorong produksi perikanan dari sub sektor budi daya. Mengingat, selama lima tahun terakhir, sub sektor tersebut nyaris tidak mendapat perhatian seperti halnya saudaranya, sub sektor perikanan tangkap.

Dari data yang dirilis resmi oleh KKP pada 2018, produksi perikanan budi daya pada 2017 mencapai 16.114.991 ton dengan nilai produksi mencapai Rp187.148.975. Dari semua komoditas, tercatat komoditas rumput laut menjadi penyumbang produksi terbesar dengan 9.746.045 ton dan nilai produksi mencapai Rp21.189.049

Setelah rumput laut, dari data yang dirilis itu, diketahui kalau produksi dari kolam air tenang menyumbang produksi terbesar kedua setelah rumput laut, yakni 2.681.959 ton dengan nilai produksi mencapai Rp61.290.946.

Salah satu jenis pakan ikan. Foto : KKP

Diketahui, perikanan budi daya kolam air tenang, dilaksanakan pada kolam tradisional yang menggunakan material kolam dari tanah, kolam semi intensif dengan material kolam dari tanah pada bagian dasar dan material semen dan pasir pada dinding. Kemudian, ada juga kolam intensif yang semuanya menggunakan tembok untuk material kolam.

Di sisi lain, antusiasme Pemerintah Indonesia untuk mengenjot produksi perikanan budi daya tersebut, dinilai harus bisa dilakukan dengan hati-hati. Mengingat, ada program perikanan budi daya yang tidak bisa dilaksanakan dengan masif dan bahkan harus dihentikan segera produksinya. (Red)

Sumber : mongabay.c.id

IKLAN DPP HIMAPSI

File Iklan Andi Simanjuntak

Share

Baca Juga