Teologi Kristen Turut Sumbang Kerusakan Lingkungan?

Oleh: CANDRA MALAU

IMG-20190610-WA0002

Persoalan lingkungan hidup menjadi salah satu isu yang semakin hangat dibahas di abad ke-XXI ini. Realita ini menunjukkan bahwa, manusia semakin merasakan dampak dari perubahan-perubahan iklim yang ada, yang berdampak langsung bagi tatanan kehidupan manusia itu sendiri. Selain kesadaran akan dampak itu, mulai timbul kekhawatiran tentang bagaimana nasib dari bumi yang kita huni ini ke depannya.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup itu memang belum menyentuh semua pihak. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya pihak melakukan eksploitasi alam secara berlebihan. Pun demikian, dewasa ini embrio kesadaran itu sudah mulai terlihat, meskipun kebanyakan hanya masih pada tataran teori.

Berbagai elemen seperti pemerintah, organisasi pegiat lingkungan, maupun organisasi mahasiswa dan kepemudaan, sudah kerap menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Baik itu melalui forum diskusi, artikel , dan bentuk penyampaian lainnya.

Suatu waktu, penulis berkesempatan turut menjadi peserta diskusi, yang membahas tentang pencemaran lingkungan dan mengatasinya. Ada satu hal yang menarik perhatian, yakni pemaparan salah satu pembicara, yang menurut penulis masih tergolong jarang menjadi bahan diskusi. Hal dimaksud adalah tentang sebuah pandangan yang ingin mengupas, apakah dalam doktrin kekristenan yang bersumber dari Alkitab, ada bagian yang terkesan turut menyumbang kerusakan lingkungan?

Bagian ayat Alkitab dimaksud dalam hal ini adalah Kejadian 1: 28 yang berbunyi: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Dalam ayat tersebut, ada semacam restu dari sang pencipta kepada manusia, untuk melakukan penguasaan dan penaklukan, kepada bumi dan isinya. Isi dimaksud di sini adalah di luar manusia itu sendiri. Jika dipahami secara sederhana, ada sejenis legitimasi yang dimiliki manusia untuk bertindak bebas terhadap bumi dan segala isinya.

Dalam perspektif penulis, adalah sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan hidup, jika ayat yang menjadi bagian dari sumber doktrin kekristenan ini disalah artikan. Sebab, ia bisa menjadi rujukan untuk melakukan eksploitasi alam dengan sebebas-bebasnya. Karena, jika diartikan sekilas, ayat tersebut menjadikan pihak di luar manusia: tumbuhan, hewan, dan kekayaan alam lainnya, sebagai objek. Dengan demikian, manusia boleh bertindak bebas terhadap itu.

Dari aspek lingkungan hidup, cara pandang seperti itu tentunya sangat berbahaya. Karena, dalam perspektif lingkungan semua yang ada di muka bumi ini adalah memiliki sifat saling membutuhkan. Ada unsur saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lain, yang disebut dengan ekosistem.

Maka karena itu, pemahaman terhadap doktrin tersebut tidaklah boleh salah. Manusia tidak boleh terlalu mengklaim dirinya sebagai subjek, dan menempatkan pihak di luar dirinya sebagai objek. Ekosistem itu harus bersirkulasi dengan baik dan benar. Manusia harus membuat pertanyaan dalam dirinya: Apakah jika manusia tidak ada, pihak di luar dirinya dalam alam semesta ini akan punah? Dan, pertanyaan sebaliknya. Jika kesadaran seperti itu terbangun, dengan sendirinya potensi untuk menuduh teologi kristen turut menyumbang kerusakan lingkungan, akan terbuang. (Redaksi)

Penulis adalah kader Sahabat Lingkungan (SALING), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Share

Baca Juga