Tersangka Masih Menghirup Udara Segar, GMKI: “Tangkap dan Adili Bahara Sibuea”

Salingnews.com – Pematangsiantar | Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun mendesak Kepolisian Resor Kabupaten Simalungun untuk segera menangkap dan mengadili humas PT. Toba Pulp Lestari (TPL) bernama Bahara Sibuea, Rabu (26/8/2020).

Bahara Sibuea sudah ditetapkan sebagai tersangka di Polres Simalungun atas laporan pengaduan masyarakat adat desa Sihaporas, Thomson ambarita, tanggal 17 September 2019 lalu, atas kasus dugaan penganiayaan yang dilakukannya terhadap masyarakat Sihaporas.

IMG-20200827-WA0008Ket Foto : Ketua GMKI Siantar-Simalungun, May Luther D Sinaga (kiri), Kabid Aksi & Pelayanan, Andre Sinaga (kanan)/DD

Ketua GMKI Cabang Pematangsiantar-Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga menilai Polres Simalungun terkesan lamban menangani kasus tersebut. Sehingga membuat beberapa elemen organisasi turut mendesak untuk melakukan penahanan.

“Kita menilai Polres Simalungun sangat lamban memproses kasus Humas PT. TPL, Bahara Sibuea. Laporan itu sudah masuk lebih kurang setahun yang lalu, akan tetapi hingga kini belum juga ditangani dengan serius oleh Polres Simalungun,” ungkap May Luther Dewanto Sinaga.

Mereka berharap agar persoalan hukum tersebut tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah, namun harus berlaku adil.

“Kami meminta agar Polres Simalungun lebih serius lagi dalam proses penegakan hukum dan dalam kasus Bahara. Polres Simalungun harus segera mengadilinya demi mewujudkan hukum yang berkeadilan, khususnya di wilayah Kabupaten Simalungun,” tambahnya.

Informasi yang diperoleh, bahwa status Bahara sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun hingga saat ini Bahara belum juga dilakukan penahanan.

“Jadi, kami meminta pihak kepolisian Simalungun agar bekerja secara profesional,” kata Luther.

Ungkapan serupa disampaikan oleh Andre Sinaga, Kabid Aksi dan Pelayanan GMKI Pematangsiantar-Simalungun. Andre menduga adanya ketimpangan dalam proses penegakan hukum oleh Polres Simalungun.

“Pada saat masyarakat Sihaporas, Thomson Ambarita dan Jhonny Ambarita
yang dilaporkan oleh pihak PT. TPL ke Polres Simalungun saat terjadi konflik di lahan adatnya dengan PT. TPL, Polres Simalungun langsung cepat memproses kasus itu. Kenapa Bahara Sibuea, yang saat ini berstatus tersangka belum juga ditahan? Ini menjadi kecurigaan kami terhadap Polres Simalungun saat ini,” ungkap Andre.

Kasus yang menjerat Bahara Sibuea bermula saat oknum Humas PT. TPL tersebut, diduga melakukan kekerasan terhadap masyarakat adat Sihaporas, pada September 2019 lalu.

Saat itu, sejumlah masyarakat adat Sihaporas sedang melakukan pengelolaan lahan adatnya, dan secara tiba-tiba sejumlah oknum dari PT. TPL termasuk Bahara Sibuea, datang ke lokasi melarang masyarakat mengelola lahan tersebut, karena diklaim sebagai lahan konsesi PT. TPL.

Saat melakukan pelarangan itu, Bahara Sibuea diduga melakukan kekerasan fisik terhadap masyarakat adat. TindakanĀ oknum humas PT. TPLĀ tersebut, kemudian dilaporkan ke Polres Simalungun oleh masyarakat adat Sihaporas.

GMKI Pematangsiantar-Simalungun beserta beberapa organisasi lainnya seperti PMKRI, GMNI, Sapma PP, AMAN, dan BAKUMSU mendampingi masyarakat Sihaporas yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Adat (AMMA). (Tim/Red)

Share