Tolak dan Hentikan Pembangunan PLTA Batang Toru Oleh PT.NSHE

 

Salingnews.com –  Tapanuli Selatan. Wahana Lingkungan Hidup Indnesia (WALHI)  Sumatera Utara bersama Forum masyarakat tergusur Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, melakukan Aksi Penolakan Pembangunan PLTA Batang Toru Oleh PT.NSHE di depan Kantor Kecamatan Sipirok, kemudian dilanjut di depan Kapolsek Sipirok dan aksi terakhir dilaksanakan di depan kantor PT. Syno Hidro sebagai Korporasi yang mengkalim diri sebagai Kontraktor berdasarkan kontark kerja untuk bidang pengembangan dan Kontruksi dilapangan. Senin (14/05/2018).

Walhi Sumut

Walhi Sumatera Utara bersama Masyarakat Batang Toru saat Aksi menolak Pembangunan PLTA Batang Toru oleh PT. NSHE

Aksi Penolakan tersebut dilakukan dari beberapa perwakilan masyarakat yang  menyampaikan serta   menuntut keadilan ekologis dan hak-hak masyarakat Desa Batang Paya yang dirampas oleh PT. NSHE dan menolak Pembangunan PLTA Batang Toru oleh PT.NSHE hal itu  dikarenakan memiliki dampak lingkungan dan dampak kepada masyarakat di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan sipirok, Kecamatan Marancar dan Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.

Baca Juga :  WALHI Sumatera Utara Menolak Proyek PLTA Batang Toru NSH

Adapun poin-poin yang disampaikan Forum masyarakat menolak Pembangunan PLTA Batang Toru oleh PT.NSHE yang pertama yaitu  hentikan Perampasan Wilayah Kelolah Rakyat, hentikan Intimidasi dan kriminalisasi yang dirasakan Masyarakat serta selamatkan lingkungan.

Kepala Departeman Advokasi Khairul Bukhari, mengatakan Hentikan Pembangunan PLTA batang Toru Sebelum terlambat. Pembangunan PLTA Batang Toru oleh PT. NSHE hanya akan menimbulkan dampak kerusakan Lingkungan dan ancaman bencana kepada masyarakat yang berada di Hilir dan Hulu Sungai, serta ancaman kerusakan habitat bagi Satwa Liar yang dilindungi  seperti orang Hutan Pongo Tapanuliensis serta habitat-habitat lainya yang berada di kasawasan hutan Batang Toru.

“Perlu di ketahui Lokasi pembangunan PLTA Batang Toru berada pada lempengan Gempa Cesar Toru, patahan lempengan yang memiliki potensi Gempa Bumi dan yang paling terpenting adalah bahwa lokasi pembangunan PLTA Batang Toru merupakan kawasan Memiliki Nilai Konservasi Tinggi di Provinsi Sumatera Utara”. Kata Khairul Bukhari.

Khairul Bukhari juga menjelaskan, ancaman kepada Masyarakat yang berada dihilir terkena dampak banjir dan kekeringan serta mata pencaharian dan kehidupan sehari-hari akan hilang secara berlahan-lahan dan terancam. Karna masih banyak masyarakat yang masih mengantungkan hidup dan kebutuhan sehari-hari dari aliran Sungai Batang Toru dan Perkebunan dan pertanian.

Perwakilan masyarakat Sipirok, Dusun Gunung Hasan yang luasnya + 200 Ha, yang di apit dua anak sungai sebelah Selatan bernama Aek Batang Paya. Sementara itu, Andy Harahap mengatakan bahwa Penyerobotan lahan yang dilakukan oleh PT. Syno Hydro dan PT. NSHE salah satu objek pital ekonomi masyarakat Sipirok, Desa Batang Paya khususnya dikarenakan lokasi tersebut terdapat lahan pertanian yang secara turun menurun kami kerjakan.

Andy Harahap juga menjelasnkan kedatangan PT. NSHE hadir bukan menguntungkan masyarakat tapi juga telah merugikan masyarakat karena telah menghilangkan hak-hak masyarakat yang ketergantugan hidupnya dari lahan pertanian kami.

“Diskriminalisasi yang di lakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tanah kami yang di beking oleh Aparat Kepolisian dan TNI sehingga masyarakat pasrah akibat ketakutan,” ujarnya. (Red/ AS)

 

Share

Baca Juga