Tubuhku Terus Berasap!

Salingnews.com-

“Tulisan ini adalah sebuah narasi ekonomi politik budaya yang coba amati masalah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di lahan gambut. Ditulis dalam majas personifikasi dan metafora oleh budayawan Conie Sema, Sutradara Teater Potlot yang selama ini aktif dalam berbagai pementasan seni.” (pengantar redaksi).

Setelah kebakaran besar musim kemarau lalu, aku kembali mengumpulkan pohon dan sungai menyangga matahari. Gugusan kebun industri di atas tubuhku menandai kegelisahanku pada musim. Aku bukan sorga. Aku timbunan humus dari sisa pohon yang mati, melapuk dalam waktu panjang. Tak ada arti bagi mimpi-mimpi besarmu.Aku sumur menyimpan dan memberimu minum saat dahaga. Menjaga dari segala bencana. Berdoa dirimu hidup lebih lama dariku.

karhutla

Karhutla yang terjadi di sebuah areal perkebunan di Jambi yang berada di area gambut. Foto: Elviza Diana/Mongabay Indonesia

Aku adalah rawa gambut. Tubuhku bukanlah masa lalu. Tidak ada kecemasan waktu. Aku hidup, bekerja, membentuk diriku menjadi sungai dan kebun. Sawah dan kolam. Mengolah keinginanmu menjadi masa depan.

Aku menjaga pesan leluhur. Mengumpulkan sisa tumbuhan tercecer di ratusan cekungan lembah, di dataran pantai, di sungai-sungai besar. Kita sama-sama bekerja. Seperti dirimu mengolah lahan membangun rumah dan mimpi masa depan. Sama-sama menjadi oksigen dan energi memberi nafas bagi kehidupan.

Aku adalah spasial yang terintegrasi antara dirimu dan manusia lainnya. Antara komponen biotik dan abiotik. Aku bersama bentang alam tidak hanya menata tanaman, satwa, pengaturan tata ruang, serta pemeliharaan infrastruktur alam, tetapi juga mengatur kesepahaman etis yang berkelanjutan antara manusia dengan beragam ekosistem alam.

Begitulah kosmologi kehidupan tradisi leluhur menjaga harmoni antara manusia dengan alam, serta keyakinan spiritualnya. Interaksi kosmologis itu melahirkan sistem adat dan tradisi budaya serta kesepakatan-kesepakatan antara manusia dan alam. Bagaimana menjaga keseimbangan nilai-nilai dan tata kehidupan, yang pada akhirnya melahirkan karya kebudayaan.

Lanskap Berasap

Musim kemarau tahun ini, lahan tidak lagi basah. Kanal-kanal kebunmu mengeringkan tubuhku. Lalu terbakar. Tubuhku menyebarkan karbon monoksida yang menyesakkan dunia. Kabut asap yang kemudian menjadi genderang kampanye antarnegara bahkan internasional. Suksesi hutan! Restorasi! Teriak mereka.

Pasca kebakaran besar 2015, Presiden Joko Widodo, membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang langsung melapor kepada presiden. Badan ini sudah hampir lima tahun bekerja memfasilitasi dan koordinasi restorasi gambut di tujuh provinsi. Sasaran utamanya percepatan pemulihan gambut. Dalam situs BRG dipaparkan, indikatif kebutuhan pendanaan Program Restorasi Gambut 2016-2020 di tujuh provinsi tersebut, sebesar 10,936 trilyun rupiah. Anggaran yang tidak sedikit, membebani APBN dan sumber dana lain.

Selain BRG, pemerintah mengeluarkan anggaran di Kementerian LHK dan lembaga terkait karhutla di jajaran TNI, Polri, BNPB, BMG dan lainnya. Pemerintah pun meregulasi dan menerbitkan berbagai peraturan, mulai dari perijinan, konservasi, dan pengelolaan lahan perkebunan.

Apa yang terjadi? Kebakaran dan kabut asap tebal saat ini tetap terjadi di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Ketujuh daerah yang jadi sasaran Restorasi Gambut BRG!

Karhutla tahun ini Presiden sibuk mengultimatum jajarannya, ancamannya dipecat. Tapi hutan dan rawa gambut tetap saja terbakar dan menebar racun asap hingga negara tetangga.

Tubuhku kembali berasap. Aku mungkin hanya bisa tersenyum ketika ada yang bertanya, “sebenarnya pemerintah ini serius enggak sih mengurus gambut. Mengurus karhutla?” lalu dengan tegas aku jawab, “urus saja perilakumu. Kami bisa mengurus diri kami sendiri!”

Sebetulnya kebakaran hutan dan lahan gambut adalah sebuah maklumat ekologis. Maklumat yang mengingatkan semua pihak dalam pengelolaan sumberdaya kekayaan alam di negeri ini.

Lanskap Ekonomi

Dalam kepanikan pemerintah pusat dan daerah cenderung saling lempar masalah karhutla, tapi di belahan lain, orang-orang sibuk merancang berlembar peta dan kartografi baru perkebunan modern.

Setiap musim kami terbakar dan dibakar, lalu bekas lahan terbakar berubah jadi lahan produksi. Ditimbun menjadi kebun-kebun monokultur, kelapa sawit dan akasia. Kebun dan pabrik industri minyak goreng, energi biosolar, biofuel, produksi kertas dan tisu dunia.

Habitat satwa dan unggas dimusnahkan. Ikan-ikan meninggalkan ranting sungai yang tertimbun lahan kebun.  Pohon-pohon dirobohkan, kanal dijaga ketat orang bermuka sangar.

Pemerintah lakukan regulasi dan terbitkan berbagai aturan. Mulai dari proses perijinan dan konservasi hingga pengelolaan ekonomi. Orang-orang bergerak. Semua kekuatan bertemu. Kekuatan ekonomi dan politik, serta pemangku kekuasaan, bersatu dalam skema bisnis kapital. Menyusun indeks hidup. Keinginan menjadi kaya dan berjaya. Keinginan atas kemakmuran dan kesejahteraan.

Lanskap ekonomi mengubah pola pandang masyarakat tradisional yang mulai berbaur dengan masyarakat pendatang. Puluhan tahun proses itu terus bergulir.

Seiring perubahan bentang alam, nilai tradisional pelan bergeser dalam kehidupan modern. Kearifan lokal tergerus oleh kepentingan pragmatis. Di lahan gambut, pendekatan ekonomi mendominasi ruang ekologis.

Aku rawa gambut.  Aku masih di sini. Di rawa lebak dan hidup bersama masyarakat Rawang, masyarakat rawa. Kami hidup bahagia beratus tahun lalu. Saling menjaga dan merawat kehidupan semesta alam. Kami adalah Rawang. Bukan masyarakat gambut yang terus kau datangkan ke kampung kami. Kami orang lebak. Yang mungkin akan terusir atau dimusnahkan bersama skema masyarakat baru itu.

Lalu tubuhku menjadi piala logam berbentuk kota. Sebuah kota peradaban masa depan. Membayangkan gedung-gedung pencakar langit, hutan-hutan beton kota, kantor pemerintahan, kondominium yang menusuk awan, pasar mewah bertingkat-tingkat, kehidupan megapolitan, pelabuhan modern, jembatan antarpulau, kapal-kapal di lintasaan jalur perdagangan internasional. Semua terkoneksi. Semua terakses.

Lanskap Budaya

Aku paham batas waktu dan kematian. Ketika keberadaanku tak mampu lagi wujudkan keinginan dan mimpimu. Aku ingin mengajakmu kembali pulang menengok kampung lamaku. Kita mengayu perahu singgah ke Pedamaran, Pampangan, Tulung Selapan sampai ke Mesuji. Berperahu menyusuri sungai dan rawa kawasan Telang, Upang, Sugihan kiri dan Sugihan Kanan, sampai Karang Agung. Menyusuri Sungai Lalan, mulai Karang Agung sampai Bayung Lincir. Berperahu di riak Musi. Dari Sungsang menyapa hutan mangrove Sembilang hingga bibir laut Pantai Timur Sumatera.

Lahan gambut dan rawa lebak adalah aku, juga dirimu.” Kau mungkin bahagia. Menikmati hamparan hijau pohon sawit kampungku. Vegetasi hutan gelam dan belukarku. Juga jutaan hektar kebun HTI yang terhampar hijau seluas mata memandang. Melewati parit-parit bekas jalur transportasi para penebang liar.

Kemarau panjang. Aku ingin menulis partitur suksesi hutan tropika penanda musim. Bercerita tentang kepanikan dunia akan perubahan iklim, oksidasi gambut atau yang emisi gas karbondioksida. Mungkin dirimu tak begitu penting untuk menyimak. Karena di dalamnya tidak menjanjikan apa-apa — dari keinginan dan harapan. Juga mimpi besarmu.

Ada narasi pohon-pohon di tubuhku. Ada narasi burung, ikan-ikan, satwa harimau dan gajah, primata, ular dan hewan hutan lainnya. Aku mendengar akustik sungai dan flora rawa. Kupu-kupu di kelopak bunga. Tubuhku tiba-tiba membangun cagar biosfer di bumi.

Lebak dan aku tetap menunggu. Tetapi tanpa kecemasan. Aku melihat dirimu di balik masker menutup separuh mukamu. Hamparan lebak dan rawa membentuk dirinya menjadi tubuh-tubuh baru. Sampai terlihat komposisi patung-patung, pilar, menara kota, dan elemen diam lainnya. Mereka tak ubah pecahan artefak masa lalu. Kumpulan fragmen sejarah yang beku.

Taman impian Sriwijaya terkubur dan dilupakan. Situs-situs yang berteriak seperti bayi mencari ibunya. Ia menjadi properti arkeologi lahan basah. Menyusu di air rawa dan lebak. Lalu orang-orang mulai membangun kesadaran budaya. Mereka menganggap ilmu pengetahuan dan ekonomi telah gagal mengelola bentang alam.

Kau pun pasti Ingat, epik di pesisir Musi. Kenangan musim bunga di kotamu. Bahwa kita lebih dulu menepi dari kekacauan arus sungai, yang selalu gagal menjadwal datangnya hujan. Sementara matahari, terus membakar kemarahan.

*  Conie Semapenulis adalah sutradara di Teater Potlot. Teater Potlot telah mementaskan sejumlah naskah terkait kerusakan bentang alam rawa gambut seperti “Rawa Gambut”, “Puyang” dan “Awang 5334 Celcius” di sejumlah kota Sumatera sejak 2017 lalu.

(Redaksi)

Share

Baca Juga