Tugu Ayam Mirah Belum Tepat Menjadi Simbol Kota Siantar

Oleh : Dedi Wibowo Damanik Wakil Ketua Bidang Seni Dan Budaya DPC HIMAPSI Kota Pematangsiantar

Salingnews.com – Pematangsiantar. Ayam Jantan Sihulabu (Dayok Sihulabu) yang secara spesifik memiliki warna abu-abu berkilau, kelabu cerah berkilau, dan jarang ditemukan. Konon menurut legenda, kerajaan Siantar pada abad ± 1481 oleh Partiga-tiga Sihapunjung, melalui pertarungan daerah kekuasaan dalam laga ayam melawan penguasa dari Kerajaan Batangio bermarga Sinaga dimana ayam Sihulabu punya Raja Namartuah Raja Pertama di Pematangsiantar yang bermarga Damanik dengan memiliki gelar Partiga-tiga Sihapunjung.

IMG-20200116-WA0030~2

Dedi Wibowo Damanik (Tengah)

Ayam Jantan Sihulabu (Dayok Sihulabu) diyakini memiliki filosofi mistis yang tinggi hingga dalam pertarungan merebut kekuasaan dari Kerajaan Batangio yang bermarga Sinaga takhluk saat sedang menggelar pertandingan laga ayam.

Baru-baru ini, pihak Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui Dinas Tata Ruang dan Permukiman membangun tugu Ayam Jantan Merah (Dayok Mirah). Dayok Mirah adalah bagian dari ciri khas etnis Simalungun yang merupakan simbol wibawa, kekuatan, dan kekuasaan. Namun Ayam Jantan Merah (Dayok Mirah) lebih digunakan ke kuliner tradisional (Makanan khas etnis Simalungun) atau yang sering disebut Dayok Naiatur (Potongan/bagian tubuh yang diatur/disusun kembali). Ayam Jantan Merah (Dayok Mirah) bukan sekedar berwarna merah untuk dijadikan kuliner tradisional, namun harus memiliki tujuh point di jengger tidak boleh berbentuk bulat ataupun kosong.

Dalam sejarahnya Kerajaan Siantar pertamakali pada  sekitar abad ±1481, Ayam Jantan Sihulabu (Dayok Sihulabu) punya cikal bakal ikut campur dalam pendirian Kota Pematangsiantar. Ayam Sihulabu adalah senjata bagi Raja Namartuah Damanik (Raja Pertama Siantar). Raja Namartuah Damanik ialah keturunan dari Dinasti Kerajaan Nagur yang terakhir.

Pada jaman dulu, apa yang diucapkan dari mulut harus dilaksanakan ibarat seperti sumpah janji istilah lain dalam bahasa Simalungun (Parhabonaron) lebih mengedepankan kebenaran. Dalam perebutan kekuasaan, Raja Namartuah Damanik melawan Kerajaan Batangio bermarga Sinaga dengan menggelar pertandingan laga ayam. Ketika Ayam Sihulabu milik Raja Namartuah Damanik menang dalam pertandingan, kekuasaan milik Kerajaan Batangio berpindah ke tangan Raja Namartuah Damanik. Raja Namartuah Damanik mendirikan kerajaan dengan nama Kerajaan Pamatangsiattar atau Kerajaan Siantar.

Ayam Sihulabu memiliki peran penting dalam mendirikan Kerajaan Siantar. Sehingga Raja Siantar dulu sering kali memakai lambang ayam dan ayam itu adalah Ayam Sihulabu. Marga (klan) Damanik yang khusus dari keturunan Kerajaan Siantar sangat menghormati ayam Sihulabu, hingga ada larangan atau pantangan untuk membunuh atau mengkonsumsi ayam Sihulabu.

Ayam Mirah (Dayok Mirah) belum tepat dijadikan salah satu ikon/simbol di Kota Pematangsiantar meskipun ayam tersebut juga adalah bagian dari simbol etnis Simalungun. Dikarenakan dalam mendirikan Kota Pematangsiantar, Ayam Sihulabu yang sangat berperan penting. Hal ini menjadi masukan kepada Pemerintah Kota Pematangsiantar agar lebih banyak bertanya dalam membangun Kota Sapangambei Manoktok Hitei Ibagas Habonaron Do Bona. (Red)

Share

Baca Juga