WALHI Sumatera Utara Menolak Proyek PLTA Batang Toru NSH

Salingnews.comJakarta. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melakukan aksi damai di Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. Selasa (08/05/18).

IMG-20180508-WA0024

WALHI  Sumatera Utara saat menggelar Aksi damai di depan Gedung Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta.

Aksi damai ini dilakukan untuk mendesak Pemerintah Negara Tiongkok untuk segera menghentikan proyek pembangunan infrastruktur dan eksplorasi di Batang Toru, Sumatera Utara, yang di lakukan koorporasi dan diduga didanai Bank of China.

WALHI sendiri menilai bahwa kegiatan proyek koorporasi dengan nama PT. North Sumatera Hydro (NSHE) berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan jika proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan hutan primer seluas 1.400 Haktar di batang toru tetap dilaksanakan. WALHI juga mengecam keras terkait rencana pembangunan PLTA dikarenakan akan mengancam ekosistem di wilayah bentang alam kawasan hutan Batang Toru yang menjadi habitat dari lebih 800 ekor orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang keberadaannya terancam punah (endanger).

Bentang alam ekosistem hutan Batang Toru merupakan hamparan hutan primer dengan luas 1.400 km2 yang terletak diantara perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Menurut Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Utara, Dana Prima Tarigan mengatakan, ada lebih dari 100.000 jiwa menggantungkan hidupnya akan keberadaan hutan di daerah batang toru. Di hilir sungai batang toru, ada 1.200 ha lahan pertanian produktif milik masyarakat terancam akibat pembangunan proyek PTLA PT. NSHE ini.

IMG-20180508-WA0023

WALHI  Sumatera Utara saat menggelar Aksi damai di depan Gedung Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta.

Bentang alam ekosistem hutan Batang Toru merupakan harta karun di provinsi Sumatera Utara, maka WALHI menilai bahwa proyek pembangunan harus segera dihentikan, kata Direktur Eksekutif WALHI Sumut.

Target operasi (commercial operation date/COD) PLTA Batang Toru ini akan beroperasi pada tahun 2022 sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listril (RUPLT) 2016. Secara teknis, proyek ini berupa tipe Peaker (hanya beroperasi saat terjadi puncak kebutuhan listrik). Konsumsi spesifik bahan bakar mencapai 0,24 liter per kWh dan tinggi jatuh air 276 meter.

Fase kontruksi PLTA Batang Toru akan dimulai pada akhir 2017 meskipun penandatanganan kontrak PPA NSHE dan PLN telah berlangsung pada 21 Desember 2015. Sementara itu, harga jual tenaga listrik sekitar 12,8574 cent dolar AS per kWh sesuai dengan persetujuan Menteri ESDM.

Dalam aksi yang di lakukan berbagai aktivis lingkungan WALHI dari berbagai daerah di depan Kedutaan Besar Tiongkok di Jalan Mega Kuningan Jakarta, Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara, Dana Prima Tarigan, mendesak untuk segera mengentikan seluruh kegiatan infrastruktur dan eksplorasi pembangunan PLTA Batang Toru.

Pada waktu yang bersamaan, Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara Dana Prima Tarigan juga menyerahkan surat kepada Kedutaan Besar Tiongkok di Jalan Mega Kuningan Jakarta dan meminta pinjaman pendanaan yang berasal dari pihak Bank of China agar ditarik kembali.

“Begitu juga laporan AMDAL yang telah dilakukan, WALHI menilai mengabaikan keberadaan spesies yang terancam punah dan dampaknya terhadap masyarakat yang tinggal di hilir sungai Batang Toru. Di samping itu Dana Prima Tarigan juga melontarkan bahwa proyek Pembangunan PLTA Batang Toru bukanlah lokasi yang cocok untuk bendungan PLTA yang besar,” ujarnya. (AS/Red)

 

 

Share

Baca Juga