Polsek Sidamanik Tolak Laporan Warga Soal Tindakan Pengerusakan Fasilitas Wisata Bah Damanik

Fasilitas Bangunan di Lokasi Wisata Pemandian Bah Damanik, Kabupaten Simalungun/doc

Salingnews.com – Simalungun | Beberapa fasilitas bangunan di lokasi wisata pemandian Bah Damanik dirusak sekelompok orang warga sekitar.

Pasalnya, hingga saat ini belum juga diketahui apa yang menjadi motif para pelaku, karena laporan pengaduan yang disampaikan oleh keturunan Oppung Naihorsik (Partuanon Sidamanik), selaku pemilik fasilitas dan pengelola Bah Damanik ditolak oleh Polsek Sidamanik.

Hal itu disampaikan Parulian Damanik selaku ahli waris pemandian Bah Damanik saat diwawancarai wartawan di lokasi pengrusakan.

“Inilah yang mereka rusak (sambil menunjuk bangunan yang dirusak). Semua bangunan kami dihancurkan. Tidak tau kenapa, para pelakunya bisa seberingas ini,” terangnya, Sabtu (28/5).

Saat pengrusakan dilaporkan ke Polsek Sidamanik, katanya, sangat disayangkan pihak kepolisian menolak laporan tersebut dengan alasan pelapor tidak memiliki alas hak.

Menurutnya, tindakan Kapolsek sangat disayangkan karena terkesan memihak sekelompok orang yang melakukan pengrusakan tersebut. Sementara, sudah jelas bahwa lokasi pemandian Bah Damanik itu adalah warisan peninggalan Oppung Naihorsik yang diwariskan secara turun temurun.

“Bagaimana mungkin bisa pendatang dikampung ini mengklaim itu adalah miliknya? Mereka menganggarkan massa mengintimidasi kami. Kami meminta perlindungan dengan cara melaporkan kasus ini, tapi polisi tidak ada tindakan,” ungkap Parulian diaminkan sejumlah keturunan Oppung Naihorsik lainnya saat berada di lokasi.

Yang paling menyedihkan, lanjutnya, pemandian Bah Damanik merupakan lokasi sakral yang dahulunya menjadi tempat Oppung Naihorsik melakukan ritual menyampaikan persembahan kepada sang pencipta (menyuguhkan sesajen). Kesakralan lokasi itu seharusnya tetap terjaga karena bagian dari warisan budaya leluhur Partuanon Sidamanik.

“Sekarang tempat itu juga seperti tidak berharga lagi. Semua mereka rusak secara membabi buta. Ini sangat menyedihkan. Kami meminta pemerintah dan kepolisian bisa segera menyelesaikan dan meluruskan masalah ini, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

Di lokasi yang sama, keturunan Oppung Naihorsik lainnya, Sarijen Damanik juga mengungkapkan keprihatinannya atas terjadinya pengrusakan tersebut. Pasalnya, selain dirusak, bangunan permanen miliknya dibongkar dan dihancurkan.

“Kami butuh keadilan. Apakah di negara kita segampang itu sekelompok orang bisa mengklaim dan menghancurkan milik orang lain?,” ungkapnya bernada kesal.

Dia berharap, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat penegak hukum kiranya segera bertindak menangkap para pelaku.

“Kita negara hukum, kami minta agar diproses secara hukum. Ini kami minta dengan hormat dan dengan sikap yang tegas,” tambahnya.

Sayangnya, Kapolsek Sidamanik saat dikonfirmasi terkait hal ini tidak berhasil. Nomor teleponnya saat dihubungi terdengar tidak dapat menerima panggilan. Dihubungi melalui panggilan WhatsApp, juga tidak berdering.

Informasi yang dihimpun dari warga, terjadinya pengrusakan tersebut diketahui dilakukan 2 pekan yang lalu. Selanjutnya, keluarga keturunan Oppung Naihorsik akan mengunjungi Poldasu untuk meminta keadilan terkait warisan leluhur tersebut. (Tim)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *