Waketum Himapsi : “Tolak Konversi Teh ke Sawit adalah Harga Mati”

Wakil Ketua Umum Dpp Himapsi Jheny Yusuf Saragih, S.Pd, M.Pd

Salingnews.com – Simalungun | Terjadinya konversi lahan dari tanaman teh ke tanaman sawit di Sidamanik, Kabupaten Simalungun, memunculkan kontra di tengah-tengah masyarakat, organisasi masyarakat, dan lapisan elemen masyarakat di Kabupaten Simalungun.

Di tahun 2012 lalu, di Kabupaten Simalungun, sudah sebagian dilakukan konversi sawit di lahan HGU PTPN IV. Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Panei Tongah, usai dikonversi ke tanaman sawit, kerap terjadi banjir dan disinyalir merusak sebagian insfrastruktur jalan di sana.

Menurut Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi), melalui Wakil Ketua Umum Dpp Himapsi, Jheny Yusuf Saragih menyebutkan pihaknya pernah melakukan penolakan terhadap konversi.

“Saya selaku wakil ketua Umum HIMAPSI mengingatkan PTPN IV supaya konversi tersebut dibatalkan dan melakukan kajian ulang supaya tidak menambah kesengsaraan masyarakat Simalungun,” tegasnya, Rabu (15/6).

Ia masih mengingat sebelum adanya kebun sawit di daerah Panei Tongah dan belum adanya konversi ini dan seluruhnya masih kebun teh, iklim dan udara yang sangat sejuk dan tidak pernah terjadi bencana banjir di Panei Tongah. Dan ketika konversi ini lakukan maka PTPN IV melakukan tindakan yang merusak ekologi serta membuat masyarakat semakin menjerit.

“Sejauh ini menurut saya pihak PTPN IV belum mampu memberikan solusi yang nyata sejak adanya konversi teh jadi sawit. Dalam RDP bersama Komisi II dengan Pihak PTPN IV kita juga pernah sampaikan supaya sawit yang sudah sempat di tanam agar diganti ulang menjadi teh karena itu satu-satunya cara supaya lingkungan dimana kembali baik seperti semula,” ungkapnya.

Namun kali ini pihak PTPN IV lagi-lagi melakukan tindakan yang arogan kepada masyarakat tanpa memikirkan masyarakat.

“Selaku Wakil Ketua umum Dpp Himapsi, Saya imbau kepada seluruh kader Himapsi dan masyarakat untuk berperan aktif dan lebih agresif lagi untuk melakukan penolakan terhadap konversi tersebut. Dan ini juga perlu peran wakil rakyat (DPRD Simalungun) supaya lebih serius memperhatikan dan menyuarakan suara masyarakat terkait hal ini,” tegasnya.

“Tolak Konversi Teh ke Sawit adalah Harga mati,” tutupnya.

Penulis : Dedi Damanik

Editor : Dedi Damanik

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *