Gamki Simalungun Tolak Konversi, Minta Pemkab Komitmen Mempertahankan Perkebunan Teh

Hasil capture foto via drone melihat kondisi perkebunan teh di Bah Butong, Simalungun/doc

Salingnews.com – SIMALUNGUN | Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (Gamki) Simalungun turut melakukan penolakan atas konversi tanaman teh ke tanaman sawit yang berada di wilayah Bah Butong, Sidamanik.

Penolakan atas konversi ini, hampir setiap lapisan organisasi masyarakat Simalungun menyuarakannya. Sebab, setiap penolakan yang disuarakan, diakibatkan dari pengalaman sebelumnya yang pernah terjadi di Kecamatan Panei, Simalungun.

Kali ini, Gamki Simalungun melihat dari sisi lingkungan yang bilamana konversi tersebut tetap dilanjutkan, maka pihak PTPN IV menambah raport merah menyengsarakan masyarakat Simalungun.

Defri Damanik selaku Kabid Akspel Gamki Simalungun menerangkan kepada Salingnews, untuk di sekitaran Sidamanik, Bah Butong, dokumen lingkungan yang mereka (PTPN IV) miliki adalah dokumen perkebunan teh, bukan perkebunan sawit.

“Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Hidup, perkebunan teh di Bah Butong belum berubah dokumennya menjadi perkebunan sawit,” ungkapnya, Kamis (21/7).

Dia menyebutkan, pihak PTPN IV jangan bermain-main dengan masyarakat Simalungun. Selain itu, dia juga meminta agar PTPN IV tetap mempertahankan perkebunan teh di Sidamanik.

“Tanaman teh di Sidamanik dapat dikembangkan menjadi icon agrowisata. Manfaatnya yaitu, menaikkan kesejahteraan perekonomian masyarakat sekitar. Pada Undang-Undang Dasar Negara ini cukup jelas disebutkan. Bahwa, air, tanah, dan udara itu dikuasai oleh Negara. Tapi harus diingat, semuanya itu untuk kesejahteraan masyarakat. Maka untuk itu, PTPN IV harus bertanggungjawab mensejahterakan masyarakat Simalungun, bukan menjadi turut serta menyengsarakan masyarakat,” tegasnya.

Gamki Simalungun sangat tegas menolak konversi tanaman teh ke tanaman sawit. Hal ini juga disebutkan Sekretaris Cabang Gamki Simalungun Chandra P Purba.

“Gamki Simalungun akan terus berjuang, baik lewat jaringan yang kita miliki dan mengajak kalangan gereja, masyarakat, dan pemuda untuk bersama-sama menolak keras konversi ini sebagai bagian menjaga keutuhan ciptaan. Dan meminta kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk komitmen dalam mempertahankan perkebunan teh yang telah menjadi icon agrowisata Kabupaten Simalungun,” tutupnya.

Penulis : Dedi Damanik
Editor : Dedi Damanik

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *